Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Harimau Sumatera yang Mati di Pasaman Dikubur di Depan Rumah Warga

Minggu, 15 Agustus 2021 | Agustus 15, 2021 WIB Last Updated 2021-10-14T10:06:31Z

Harimau Sumatera yang ditemukan warga dalam kondisi lemas yang kemudian mati.

padanginfo.com - PASAMAN - Seekor Harimau Sumatera yang ditemukan warga Sontang Cubadak, Pasaman, dalam kondisi tidak sehat. Binatang buas yang dilindungi negara itu mati sebelum mendapatkan pengobatan.

Warga yang melihat harimau sakit dan tertidur di dekat Bendungan Sontang, Nagari Sontang Cubadak, Kecamatan Padang Gelugur, Kabupaten Pasaman dengan mengirimkan video kondisi harimau yang masih hidup dengan kondisi lemas, Sabtu (14/8/2021) pagi.

Pihak Balai KSDA Sumbar yang mendapatkan laporan segera turun di lapangan. "Tindak lanjut dari laporan tersebut BKSDA Sumbar berkoordinasi dengan jajaran Polsek Panti dan Koramil Rao untuk membantu mengamankan harimau yang sakit," ujar Kepala Balai KSDA Sumbar, Ardi Andono.

Tim BKSDA meluncur ke lokasi dengan membawa kandang dan juga mempersiapkan dokter hewan dari Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan Bukittinggi untuk melakukan pertolongan pertama yang selanjutnya akan dirawat lebih lanjut.

BKSDA Sumbar juga berkoordinasi dengan para pihak terkait, mulai dari Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Barat selaku Wakil Ketua Tim Koordinasi Penanganan Konflik Satwa di Sumatera Barat untuk mendapatkan tenaga medis dan dukungan Pemerintah Kabaupaten Pasaman.

Harimau Sumatera itu sempat mendapatkan perawatan oleh petugas medis dari Puskeswan Duokoto dengan kondisi suhu badan yang tinggi, kotoran berwarna hitam dan selanjutnya diberikan tindakan pemberian obat dan vitamin, namun pukul 11.00 WIB, pada hari itu, Harimau tersebut dinyatakan mati.

"Pada saat yang bersamaan massa di lokasi telah banyak berkumpul dan meminta agar Harimau tersebut dikubur di kampung tersebut dengan anggapan bahwa harimau tersebut merupakan leluhur mereka," ungkapnya.

Upaya negoisiasi membawa harimau ke Padang untuk di Nekropsi antara petugas BKSDA Sumbar, Kasat Reskrim dan Kasat Intel Polres Pasaman dengan ninik mamak berlangsung alot. Meskipun telah mendapatkan jaminan dari petugas atau pun dokter hewan didatangkan untuk pengambilan sample di lokasi pun mengalami kebuntuan.

"Masyarakat memaksa harimau tersebut untuk dikuburkan di depan rumah, Alinurdin selaku Ninik Mamak," imbuhnya.

Padahal proses nekropsi sangat penting dilakukan guna mengetahui penyebab kematian, apakah penyakit yang membahayakan dan menular atau karena diracun.

"Secara medis sangatlah berbahaya menguburkan bangkai satwa di sekitar pemukiman jika ternyata satwa tersebut membawa penyakit yang bersifat zoonosis (menular dari hewan ke manusia)," ungkap Ardi.

Untuk menghindari pencurian jasad harimau, masyarakat melakukan pengecoran makam tersebut dan dilakukan upacara adat selama beberapa hari.

Dikatakan, petugas akan melakukan pengambilan data di lapangan baik jejak, kotoran, sumber air, keberadaan pakan satwa serta memasang kamera trap dan sosialisasi penanganan konflik satwa kepada masyarakat.

"Hal ini penting dilakukan sebagai bentuk upaya pencegahan konflik dikemudian hari,” ujar Ardi Andono.

Harimau Sumatera diperkirakan berumur 7-8 tahun dengan jenis kelamin jantan, panjang badan kurang lebih 170 cm dan ekor sepanjang 60 cm, ditemukan kurang lebih 4 km dari hutan lindung yang dikelola oleh Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung Pasaman Raya yang membentang membentuk koridor hutan Panti-Batang Gadis.

Sementara Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Ditjen KSDAE drh. Indra Exploitasia, M.Si, mengatakan, pihaknya menghargai kearifan lokal yang dianut oleh masyarakat setempat. Namun, ia tetap berharap pihaknya bisa melakukan nekropsi terhadap jasad harimau itu untuk mengetahui penyebab kematian.

"Kearifan lokal sangat kami hargai, namun semestinya dapat di Nekropsi terlebih dahulu. Dengan adanya hasil nekropsi dapat diketahui penyebab kematian. Apabila itu merupakan penyakit menular dan berbahaya bagi satwa lainnya maka perlu dilakukan upaya pencegahan dan sosialisasi lebih lanjut kepada masyarakat. Apalagi dalam masa pandemi Covid 19 saat ini, diperlukan kehati hatian dalam segala tindakan penanganan pasca kematian terutama terhadap bangkai Harimau," ujarnya.(afr)

×
Berita Terbaru Update