Notification

×

Iklan

Powered By Blogger

Indeks Berita

Kota Sawahlunto Masuk Nominasi Situs Warisan Dunia

Kamis, 27 Juni 2019 | Juni 27, 2019 WIB Last Updated 2019-06-27T04:55:23Z
Kabar baik untuk masyarakat Indonesia. Karena, salah satu kota di Provinsi Sumatera Barat, Sawahlunto menjadi salah satu di antara 44 nominasi destinasi untuk daftar Situs Warisan Dunia UNESCO 2019.

Hal ini diputuskan melalui musyawarah komite yang bertanggung jawab atas daftar nominasi Situs Warisan Dunia UNESCO 2019 yang dilakukan selama 11 hari di Kota Baku, Azerbaijan. Saat ini telah ada 1.092 situs dari 167 negara yang telah masuk dalam daftar tersebut.
Tahun 2019 ini, ada tiga kategori yang berbeda dalam daftar nominasi tersebut. Kategori pertama adalah situs alam. Kategori kedua adalah situs budaya, dan yang ketiga ialah gabungan antara unsur budaya dan alam.

Menurut keterangan di situs web resmi UNESCO, Sawahlunto merupakan kota penambangan batubara tertua di Asia Tenggara. Namun nama Sawahlunto agaknya masih jarang terdengar, bahkan oleh masyarakat Indonesia sendiri.

Berikut KompasTravel merangkum 5 fakta seputar Sawahlunto. Kota Sawahlunto di Provinsi Sumatera Barat.

1. Berhawa Sejuk 

Berkeliling sejak pagi hingga siang hari, di bawah teriknya matahari musim kemarau terasa sejuk sebab Sawahlunto berada di antara pegunungan Bukit Barisan yang rimbun sehingga disebut juga ”Kota Kuali”.

Kota Sawahlunto memiliki luas 273,45 kilometer persegi yang 26,5 persen kawasannya merupakan area perbukitan yang ditutupi hutan lindung. Seperti halnya daerah lain di Sumatera Barat, Sawahlunto memiliki iklim tropis dengan kisaran suhu minimum 22,5 derajat celcius.

Selain udaranya yang sejuk, di kota ini kamu dapat melihat indahnya danau yang terbentuk dari bekas galian tambang batubara.

2. Disebut Kota Arang 

Sawahlunto, dulu dikenal sebagai "Kota Arang" sebab menghasilkan batubara sumber energi. Hal ini juga ditandai dengan didirikannya patung orang rantai terpasang di kompleks Museum Tambang Lobang Mbah Soero yang merupakan tambang pertama Belanda di Kota Sawahlunto, Sumatera Barat.

Bukan hanya batubara, di kompleks museum ini kamu juga bisa melihat kereta api pengangkut batubara dari lubang ke tiga silo dengan kereta uap Mak Itam. Sejak 2009 kereta ini menjadi sarana para turis bernostalgia dengan kereta uap dari Sawahlunto-Padang.

Kini kereta dengan dua gerbongnya teronggok di gudang samping stasiun kereta api Sawahlunto.

3. Menyimpan Kisah Penjajahan Belanda 


Sawahlunto menyimpan sepotong kisah penjajahan Belanda. Sawahlunto menarik perhatian berkat temuan pada tahun 1868 oleh seorang insinyur pertambangan Belanda, Willem Hendrik de Greve, tentang adanya potensi besar kandungan batubara di Sungai Ombilin, salah satu sungai di Sawahlunto. De Greve meninggal terseret arus Sungai Ombilin, tetapi penelitian terus dilanjutkan.

Penggalian pertama dilakukan tahun 1890 oleh ribuan orang rantai atau sebutan untuk orang-orang terpidana yang terus-menerus dirantai kakinya dan kuli kontrak—keduanya berasal dari berbagai daerah. Produksi pertama tahun 1892 sebesar 40.000 ton dari lapangan Sungai Durian.

Ekspansi berlanjut dengan mengeduk perut bumi pusat kota di Lubang Tambang Soegar, lubang pertama di Sawahlunto yang digali tahun 1898 dan ditutup tahun 1930, dibuka kembali tahun 2007 dan dijadikan obyek terpenting wisata tambang Sawahlunto dengan nama Lubang Tambang Mbah Soero, diambil dari nama Mbah Soero, seorang mandor yang terkenal sakti.

Namun sayangnya Lubang dengan kedalaman ratusan meter itu kini ditutup karena besarnya rembesan air. Kedalaman bisa mencapai ratusan meter.

Meski demikian ada yang memperkirakan Belanda sengaja menutupnya sebagai cadangan sebab masih tersisa di sana sebanyak 40 juta ton batubara.

Pada saat penggalian kembali untuk keperluan mengubah Sawahlunto dari kota arang menjadi kota wisata, ditemukan banyak kerangka, yang menunjukkan banyak petambang meninggal selagi bekerja dan jenazahnya dikumpulkan begitu saja di salah satu sudut terowongan.

4. Sempat Dianggap Kota Mati 

Kota Sawahlunto sempat dianggap sebagai kota mati di tahun 2000. Hal ini terjadi karena batubara di Sawahlunto dianggap sudah hampir habis. Padahal ekonomi Sawahlunto tergantung pada pertambangan batubara.

"Masih ada, tapi batubaranya itu deposit dalam. Jadi untuk tambang batubara perlu alat dan teknologi yang lebih maju, sehingga pembiayaan pun tinggi. Sejak tahun 2000, penduduk Sawahlunto makin berkurang karena takut pada berhentinya kegiatan ekonomi. Mereka sudah tidak ada harapan hidup di sini, jadinya banyak yang merantau atau balik ke kampung," ujar Wali Kota Sawahlunto Amran Nur yang menjabat di tahun 2011 saat ditemui, Jumat (10/6/2011).
Memang, sejak dahulu Sawahlunto banyak pendatang karena tergiur dengan lapangan kerja di kawasan pertambangan. Namun ketika produksi batubara nyaris mati, penduduk Sawahlunto berkurang sekitar 20 persen. Karena itu, pihak pemerintah daerah pun membanting setir mengubah citra kota arang menjadi kota turis.

Beruntung, sejak tahun 2003 pemerintah setempat telah mengupayakan beragam cara agar Sawahlunto menjadi kota wisata. Kota Sawahlunto pun dipromosikan sebagai Heritage City, kota peninggalan kolonial Belanda yang dahulu terkenal sebagai pusat pertambangan.

5. Punya Banyak Objek Wisata Sejarah 

Banyak sekali situs bersejarah di kota ini. Antara lain menara yang ada di ketinggian, lorong yang dulu dipakai mengangkuti batubara dengan kereta dari lubang penggalian ke tiga silo di bawahnya, Goedang Ransoem, stasiun kereta api, dua Gereja Katolik dan Gereja Kristen Protestan, Masjid Agung, Gedung Pusat Kebudayaan, hingga kantor pertambangan batubara pada masa kolonial dulu yang sekarang ditempati kantor PT Bukit Asam.

Namun tiga obyek wisata yang menonjol adalah Lubang Tambang Mbah Soero, Goedang Ransoem, dan Stasiun Kereta Api Sawahlunto. Ketiga peninggalan itu sekaligus menjadi obyek-obyek utama pengembangan pariwisata Sawahlunto dalam konsep dari "Kota Arang" menjadi kota wisata.

Salah satu situs paling populer adalah Museum Goedang Ransoem yang merupakan salah satu peninggalan pemerintah kolonial ketika menjadikan Sawahlunto sebagai kota tambang penghasil batubara sejak tahun 1888.

Kota Sawahlunto tidak hanya menarik dikunjungi, tetapi juga bahan belajar tentang kekejaman dan keserakahan manusia.(*)

Tag Terpopuler

×
Berita Terbaru Update