Notification

×

Iklan

Powered By Blogger

Indeks Berita

Inyiak Feri Menuju Gedung Dewan

Selasa, 04 September 2018 | September 04, 2018 WIB Last Updated 2018-09-04T05:17:31Z
Namanya Asraferi Sabri. Sering dipanggil akrab dgn nama kecilnya, Feri, oleh sejawat seusianya. Sejak menjadi wartawan sampai kemudian melebarkan sayap keberbagai aktifitas, terakhir sebagai orang partai, Feri tetap dikenal sebagai pribadi yg kritis, tajam tapi dipercaya.

Saat masih aktif meliput berita, termasuk pada acara jumpa pers, dimana saja, terutama di kantor gubernur, Asraferi Sabri selalu muncul dgn pertanyaan-pertanyaan tajam. Kritis, dan terkadang membuat narasumber tersudut. Meski akhirnya suasana mencair setelah Feri mendatangi narasumber terkait, tentu dengan metoda komunikasi pribadi.

Dengan model pertanyaan tajam dan kritis itu, Feri dengan gampang dikenali oleh narasumber. Meski sesungguhnya Feri adalah wartawan berpenampilan cuek. Selalu memakai topi. Berkacamata, tas besar dan kadang memakai jaket tidak berwarna tajam.

Selain mewawancarai narasumber Feri juga sering langsung mengambil foto peristiwa dan foto narasumber. Meski pangkatnya saat itu sudah tinggi di Harian Singgalang.

Dengan penampilan seperti itu, Feri sering dipergarahankan teman teman dengan sebutan "wartawan lengkap". Sementara wartawan lain, ada yang tidak bertanya sama sekali. Bahkan hanya mencatat dgn modal kertas hvs satu lembar dilipat enam.

Pribadi multitalenta

Asraferi Sabri menyelesaikan pendidikan sarjana-muda Akuntansi di AAI Padang. Pendidikan menengah dia selesaikan di SMP Negeri 3 Tanjung Alam, Ampek Angkek, Agam (1976-1979), dilanjutkan ke SMEA Negeri Bukittinggi (1979-1982).

Waktu kemudian mencatat perjalanan hidup lelaki kelahiran, 29 Agustus 1963 asal Agam, Sumatera Barat, ini sebagai pribadi multitalenta, banyak kapandaian, bahaso awaknya.

Alumni Bachelor of Accounting Akademi Akuntansi Indonesia, Padang ini masih mengelola situs media: www.bakaba.co, juga dikenal sebagai aktivis sosial, budaya dan jurnalis Indonesia.

Kini Feri menjabat Sekjen (Sekretaris Umum) Karapatan Niniak Mamak Minangkabau, sebuah organisasi, perkumpulan Niniak Mamak Pemangku Adat Minangkabau.

Sebagai seorang Jurnalis, Asraferi pernah bekerja di beberapa media cetak, radio dan media online antara lain; Harian Singgalang, Padang (1987-1999, Harian Mimbar Minang, Padang (2000-2001), Radio Padang-FM (2002-2003), Harian RiauMandiri, Pekanbaru (2003-2004), Radio Mandiri-FM, Pekanbaru (2005-2006), Radio Elsi-FM, Bukittinggi (2006). Pada tahun 2007, Asraferi Sabri mendirikan tabloid 'SuaraPublik' di Bukittinggi.

Dalam aktivitas sosial-budaya, jauh sebelumnya Asraferi Sabri mendirikan Yayasan Taraju (1990) di Padang. Lembaga ini bergerak di bidang seni-budaya, menggelar berbagai kegiatan sastra dan budaya. Juga menerbitkan buku puisi/sastra karya penulis Sumatera Barat.

Asraferi Sabri pernah duduk sebagai pengurus Dewan Kesenian Sumatera Barat (DKSB) periode 1990-1995, 2000-2003 dan 2003-2007. Ketika duduk sebagai Wakil Ketua Bidang Organisasi dan Keuangan DKSB, dia menginisiasi pembentukan Dewan Kesenian Bukittinggi (2003). Pada tahun 2009 aktif dan duduk sebagai Sekretaris di Dewan Kesenian Bukittinggi.

Di ranah aktivis sosial, dia aktif di Komunitas Selaras Alam (KSA) berbasis di Nagari Lasi, Kecamatan Candung, Agam. KSA sebagai lembaga swadaya masyarakat menggerak-aktifkan petani untuk bisa berdaulat, produktif dan mandiri. Dia juga aktif dan jadi pengurus Leon Agusta Institute (LAI), Padang, sebuah LSM yang bergerak di bidang kebudayaan.

Masalah adat Minangkabau juga menjadi ranah aktivitas yang dia geluti. Aktif menggerakkan perkumpulan yang terlembaga bernama; Karapatan Niniak Mamak Minangkabau. Di perkumpulan para Pemangku Adat itu, Asraferi Sabri duduk sebagai Sekretaris Umum.

Aktivitas yang juga digeluti Asraferi Sabri adalah bidang antikorupsi dan pengawal aspirasi warga/rakyat. Sejak tahun 2013, dia duduk sebagai Direktur Eksekutif Aliansi Rakyat Anti Korupsi (ARAK) yang berbasis di Kota Bukittinggi. Pada tahun 2016 Asraferi Sabri mendirikan Dewan Kota Bukittinggi, sebuah lembaga masyarakat untuk menampung aspirasi warga/rakyat kota yang hak-haknya diabaikan oleh pemerintah.

Sebagai Jurnalis, aktivitas kewartawanan-nya sudah digeluti sejak sebelum reformasi. Sejak tahun 1987. Sampai sekarang tetap aktif dan sejak 2015 mendirikan media-online yakni www.bakaba.co.

Inyiak: Panggilan Khas

Pengalaman menarik dialaminya ketika mengurus warga/rakyat sebagai Wali Nagari di kampung kelahirannya: Nagari Pasia, Kecamatan Ampek Angkek, Agam. Menjabat Wali Nagari antara 2008-2015. Dan aktif di organisasi para Wali Nagari se-Kabupaten Agam yang jumlah nagari/wali nagari-nya 82. Antara tahun 2010-2013 sebagai Sekretaris Perwana (Perhimpunan Wali Nagari) se-Agam. Kemudian duduk sebagai Ketua Perwana Agam periode 2013-2015.

Sebagai Wali Nagari, di Agam, panggilan khas adalah Inyiak Wali. Bukan Pak Wali. Setelah tidak menjadi Wali Nagari alias mantan, sebutan khas Inyiak --tanpa Wali-- tetap melekat. Begitu juga yang dialami Asraferi Sabri, dia tetap dipanggil Inyiak oleh warga maupun sahabat dan kenalan; Inyiak Feri...(*/awe)

Tag Terpopuler

×
Berita Terbaru Update