Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Universitas Paramadina Gelar Program Pendampingan, Dr Lin Maysari:Wabah Pandemi Berdampak Negatif pada Pelaku UMKM Indonesia

Kamis, 23 Desember 2021 | Desember 23, 2021 WIB Last Updated 2021-12-31T08:55:18Z

Dr Lin Mayasari saat memaparkan dampak negatif pelaku UMKM akibat wabah pandemi (ist)

padanginfo.com
- JAKARTA- Ketua Tim dari Universitas Paramadina Dr. Iin Mayasari menyatakan bahwa adanya  wabah pandemi Covid-19 pada awal tahun 2020 menyebabkan sejumlah kerugian yaitu penurunan aktivitas perekonomian secara global dan nasional.Dampak negatif dari resesi ekonomi ini juga dialami oleh para pelaku UMKM di Indonesia


Ia menyampaikan hal itu  pada penyelenggarakan Program Pendampingan untuk Resiliensi Bisnis dan Pemberdayaan UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah). Sebagai implementasi Merdeka Belajar Kampus Merdeka, Program ini mendapat dukungan pendanaan Program Pembelajaran Kolaboratif dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Riset dan Teknologi, Kemenristekdikti RI.


Kegiatan ini diikuti 40 peserta yang diselenggarakan secara luring dengan protokol kesehatan di Aula Prof. Firmanzah Universitas Paramadina berlangsung pada hari Rabu,  22 Desember 2021 


“Situasi pandemi Covid-19 juga mengakibatkan banyak ekonomi negara maju dan berkembang memburuk, sehingga mengarah pada potensi resesi ekonomi global. Salah satu aspek yang mendapatkan dampak negatif dari resesi ekonomi ini juga dialami oleh para pelaku UMKM di Indonesia.” Katanya.  


Perlambatan ekonomi sektor UMKM ini juga ditandai dengan terjadinya penurunan penjualan, macetnya aspek pembiayaan, masalah terhadap jalur distribusi barang, dan kesulitan untuk memperoleh bahan baku produksi.


Tim yang diketuai oleh Dr. Iin Mayasari ini juga didukung oleh sejumlah anggota yaitu Adrian Azhar Wijanarko, MM dari  Program Studi Manajemen;  Wahyuningdiah Trisari Harsanti Putri, MTI dari Program Studi Teknik Informatika, dan Handrix Chris Haryanto, MA dari Program Studi Psikologi.


 “Tim ini yang membantu para pelaku usaha UMKM untuk  mengoptimalkan pengelolaan  usahanya, termasuk bertahan di kondisi pandemi,  sekaligus memberikan kontribusi terhadap solusi pemecahan masalah yang dihadapi oleh para UMKM.”  Katanya.


Kontribusi ini dilakukan melalui pemberian  pendampingan  berupa pelatihan yang tepat bagi para pelaku UMKM.


“Pemberian pelatihan dilakukan dengan memberikan fasilitas sharing pengetahuan dan modul. Adapun tema-tema pembelajaran yang diberikan adalah  Pengelolaan  Keuangan di Masa Pandemi,  Persaingan Usaha,  Keunggulan Produk dan Inovasi,  Branding,  Kemasan, Pembuatan Website, Promosi dengan  Media Sosial  dan Menjaga Hubungan Baik dengan Konsumen  melalui Kemitraan.” Pungkas Iin.  


"Dengan mengikuti pelatihan ini insya Allah dapat meningkatkan keterampilan produksi dan manajerial sehingga nantinya dapat meningkatkan produktivitas. Harapan saya acara ini dapat dilanjutkan karena sangat relevan dengan kebutuhan kami." ungkap Haryono, koordinator  Garda Transfumi (Transformasi Formal Usaha Mikro) salah satu peserta pelatihan.


Data Kementerian Koperasi dan UKM melaporkan bahwa menjelang pandemi, terdapat 61,7 juta UKM di Indonesia. Angka ini terus bertumbuh menjadi 62,9 juta di tahun 2017, dan 64,2 juta pada tahun 2018 (Kemenkop UKM, 2020). OJK beserta Kementerian Koperasi dan UKM memprediksikan bahwa angka ini akan terus meningkat di tahun 2019, 2020, dan 2021 (OJK-BCG, 2020; Kemenkop UKM, 2020). (*/ak)

×
Berita Terbaru Update