Notification

×

Indeks Berita


Tiga Penyair Banyumas Raya Akan Tampil di Cilacap

Jumat, 12 Agustus 2022 | Agustus 12, 2022 WIB Last Updated 2022-08-12T08:17:46Z



Penyair Eddy Pranata. Fot.dok. harianbhirawa.co.id)

padanginfo.com-
BANYUMAS- Perayaan antologi puisi Wasiat Botinglagi yang menghimpun seratus puisi karya penyair Indonesia dari berbagai daerah, akan digelar di Balai Desa Tayem, Karangpucung, Cilacap pada Minggu (21/8). Tiga penyair Banyumas Raya yang lolos kurasi Wasiat Botinglangi adalah Eddy Pranata PNP, Wanto Tirta dan Dwita Utami. Acara ini akan dihadirioleh sejumlah penyair, seniman dan budayawan Banyumas Raya.


Menurut inisiator acara Dwita Utami, selain pembacaan dan bincang puisi juga akan digelar pertunjukan berbagai cabang seni tradisional. Dan acara ini juga merupakan upaya pengenalan sastra/puisi ke tengah masyarakat pedesaan, yang selama ini jauh dan nyaris tidak tersentuh sastra.

“Kegiatan ini juga salah satu upaya nyata pergerakan literasi di desa Tayem. Sebagai langkah awal memperkenalkan lebih dekat kepada masyarakat tentang gerakan literasi yang selama ini masih rendah. Sambutan dan keterlibatan masyarakat sangat positif, baik dari kalangan anak-anak maupun orang dewasa, semua siap berpartisipasi,” ujar Dwita Utami, penyair yang juga seorang Sekretaris Desa Tayem.


Menurut Wanto Tirta; penyair, Presiden Geguritan Banyumas yang puisinya juga lolos kurasi, keikut sertaan penyair Banyumas Raya di antologi puisi Wasiat Botinglangi, tentu menjadi perhatian sendiri, itu termasuk bentuk pengakuan dunia sastra di luar Banyumas Raya. 

Dalam antologi tersebut tergabung karya-karya penyair seluruh Indonesia. Rupanya dengan puisi mampu melintasi ke berbagai daerah dan menjadi bahasa komunikasi antar penyair melalui karya-karyanya. Apalagi tema yang diusung sangat menarik untuk dipuisikan, sehingga antologi puisi ini merupakan kerja kreatif lintas daerah/pulau dalam kerangka merayakan dan menggembirakan dunia sastra/ puisi di jagad sastra mutakhir.


Desa Tayem merupakan fenomena baru dalam kancah apresiasi sastra/puisi maupun kegiatan literasi. Acara yang diramu dengan kegiatan tradisi yang ada di desa, harapannya puisi bisa ikut ambil bagian dalam mengaktualisasikan nilai-nilai tradisi dan estetika yang ada di desa Tayem.

“Saya salut kepada panitia, penyair Dwita Utami yang memprakarsai kegiatan ini. Semoga desa Tayem mampu menginspirasi desa-desa lain. Semakin banyak desa yang mengadakan kegiatan semacam itu, saya yakin kegiatan literasi akan tumbuh dan berkembang dengan baik dan subur,” tutur Wanto Tirta dengan nada optimis.


Sementara itu, Eddy Pranata PNP, presiden penyair Banyumas Raya yang puisinya; “Sebilah Badik Tanpa Warangka” menjadi puisi pilihan dalam antologi Wasiat Botinglangi menyampaikan gagasannya; bahwa karya sastra— puisi akan menembus ruang dan waktu. Gerak humanisme dan budaya dalam kehidupan bermasyarakat di mana pun berada. “Dengan puisi, mudahan-mudahan kita bisa menjadi manusia seutuhnya, bisa mengejawantah persoalan kehidupan lewat kata-kata, dengan ikhlas dan mulia,” ujar Eddy Pranata yang juga founder of Jaspinka.

Wasiat Botinglangi merupakan antologi puisi yang mengangkat budaya adiluhung Sulawesi Selatan diterbitkan Perpustakaan Komunitas Iqra (Takanitra) Barru, RBCD Parepare, YBUM Parepare dan Rumah Puisi Parepare.

Tri Astoto Kodarie yang juga salah satu kurator menjelaskan, bahwa tidak semudah yang dibayangkan untuk menulis puisi tematik. Demikian pula dengan puisi bertema Budaya Sulawesi Selatan. alui puisi-puisinya. snul Khuluqi, Riswo Mulyadi serta musikalisasi puisi Jaspinka.(*/ak)

Tag Terpopuler

×
Berita Terbaru Update