Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Sudah Banyak Korban, Asap Genset Memang Berbahaya

Minggu, 29 April 2018 | April 29, 2018 WIB Last Updated 2018-04-29T08:37:49Z
Padang Info.com - PADANG - Asap genset memang berbahaya. Asapnya mengandung karbon monoksida yang bisa menyebabkan kematian bila terhisap terus menerus.

Data yang dihimpus Padang Info.com, tercatat sejumlah kejadian yang menyebabkan orang tewas akibat asap genset tersebut. Setahun terakhir, setidaknya ada tiga kasus keracunan asap genset yang menyebabkan kematian banyak orang sekaligus.

Oktober 2017 lalu, terjadi tiga kasus keracunan asap genset yang menyebabkan kematian semua anggota keluarga yang berada dalam rumah.

Satu keluarga tewas diduga keracunan asap genset di Lubuklinggau, Sumatera Selatan. Mereka menyalakan genset sepanjang malam dalam rumah yang tertutup. Empat korban tewas adalah Candra (39), Elisha Haryani (38), Fahri Nizarullah Lisandra (10), dan Afif Wahyu Ramadan (3 bulan). Mereka merupakan satu keluarga.

Asap genset juga merenggut nyata satu keluarga di Bogor. Tiga orang tewas karena keracunan asap genset di Perumahan Grand Kahuripan Cluster Bromo V Blok BD 07 RT 02/08, Desa/Kecamatan Klapanunggal, Kabupaten Bogor. Ketiga korban itu ditemukan dalam kondisi tubuh menghitam di dalam sebuah kamar.

Lebih parah lagi Malang. Tujuh orang meninggal bersamaan usai menghirup asap genset. Terjadi September 2017,  tujuh orang ditemukan tewas di ruang genset di Balai Desa Ngadas, Kabupaten Malang. Mereka diduga akibat kekurangan oksigen dan menghirup karbon dioksida (CO2) usai menyalakan genset ketika tengah rapat malam hari di balai desa.

Baca Juga: Diduga Keracunan Asap Genset, Atlet Mengawai Meninggal di Penginapan

Karbon Monoksida Berbahaya

Berbayanya asap genset bagi manusia dibenarkan pihak RS Mitra Siaga, Tegal. Sebagaimana yang dilansir pihak RS, dijelaskan asap genset mengandung gas karbon monoksida.

Karbon monoksida adalah gas yang terdiri dari satu atom karbon (C) dan satu atom oksigen (O). Gas ini tidak berbau, tidak berwarna, tidak berasa dan tidak mengiritasi.

Namun karbon monoksida ini mudah terbakar dan sangat beracun apabila terhirup oleh manusia dan memasuki sistem peredaran darah. Karbon monoksida terjadi akibat proses pembakaran yang tidak sempurna akibat kurangnya oksigen. Hal ini bisa terjadi pada kendaraan bermotor, alat pemanas, tungku kayu, bahkan asap rokok termasuk asap genset.

Disebutkan, paparan karbon monoksida dalam jumlah besar akan menimbulkan gejala seperti keracunan, yakni sakit kepala, rasa mual dan muntah. Gejala ini akan bertambah dengan rasa lelah, mengeluarkan keringat cukup banyak, pola pernafasan menjadi cepat dan pendek, adanya rasa gugup dan berkurangnya fungsi penglihatan. Puncak dari gejala ini adalah berkurangnya kesadaran bahkan hingga pingsan yang sebelumnya ditandai dengan sakit dada yang sangat mendadak.

Jika terjadi nyeri dada, maka CO sudah berada di jantung. Banyak kasus kematian akibat keracunan karbon monoksida ini terjadi karena kesulitan bernafas dan edema paru yang disebabkan adanya kekurangan oksigen pada level sel, dimana sel tidak mendapatkan cukup oksigen dari darah karena justru mengikat gas CO.

Bagaimana Pertolongan pertama?

Jika ada seseorang yang mengalami keracunan karbon monoksida, maka pertolongan pertama yang bisa dilakukan adalah membawa korban ke tempat terbuka, bisa diusahakan yang terbuka dan hijau dan jauh dari sumber karbon monoksida. Longgarkan pakaian korban supaya lebih mudah bernafas.

Jika memiliki oksigen murni, bisa diberikan kepada korban sebagai pertolongan untuk dihidurp. Pastikan korban keracunan masih bernafas dengan menyentuh hidung, denyut jantung dan nadi. Setelah korban siuman, pastikan dalam keadaan tenang karena jika korban terlalu banyak bergerak maka kebutuhan oksigen akan meningkat dan ia akan pingsan kembali.

"Setelah itu segera bawa korban ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut," jelas dokter Mitra Siaga.(pci)
×
Berita Terbaru Update