Notification

×

Iklan

Iklan

Menyusuri Jejak Spiritual Seorang Maestro: Hendra Buana, dari Kaligrafi ke Bahtera Imajinasi

Senin, 24 Agustus 2026 | 8/24/2026 WIB Last Updated 2026-08-24T09:26:51Z

     Perupa Hendra Buana


Oleh YURNALDI, wartawan utama, seniman dan sastrawan.

Ada pelukis yang melukis apa yang dilihat mata. Ada pula pelukis yang berusaha melukis apa yang dirasakan jiwa. Dan Hendra Buana, pelukis yang saya pelototi, termasuk yang kedua.

Pada kanvasnya, alam bukan sekadar pemandangan. Gunung, lembah, sungai, laut, awan, pepohonan, manusia, binatang, bahkan sebuah bahtera tua dapat berubah menjadi bahasa untuk membicarakan sesuatu yang lebih dalam: iman, kehidupan, sejarah, kehancuran, keselamatan, dan hubungan manusia dengan Sang Pencipta.

Karena itu, membaca Hendra Buana tidak cukup hanya dengan membicarakan teknik, warna, komposisi atau kecenderungan estetiknya. Ada perjalanan spiritual yang panjang di balik karya-karyanya. Ada pergulatan seorang seniman dalam mencari bentuk yang paling tepat untuk menyampaikan keyakinan dan kegelisahannya. Dan perjalanan itu telah berlangsung lebih dari empat dekade.

Hendra Buana lahir di Koto Tangah Hilir, Bukittinggi, Sumatera Barat, 8 Oktober 1963. Ia menempuh pendidikan di SMSR Padang dan kemudian melanjutkan pendidikan seni lukis di STSRI “ASRI” Yogyakarta—yang kini menjadi bagian dari ISI Yogyakarta—dan menyelesaikannya pada 1990. Sejak muda ia telah meneguhkan pilihan untuk menjadi pelukis.

Pilihan itu kemudian dibuktikannya bukan hanya melalui produktivitas, tetapi juga melalui perjalanan panjang berpameran dan pencapaian artistik.

Pada 1988, ketika masih berada dalam masa pendidikan, ia terpilih sebagai peserta pertukaran pemuda ASEAN dan mengikuti Workshop and Exhibition di Brunei Darussalam. Pada tahun yang sama, ia juga tercatat mengikuti pameran internasional di New York. Ia kemudian memperoleh medali emas dari Museum Pusat Dakwah Negara Brunei Darussalam dalam kegiatan ASEAN Workshop & Exhibition.

Tahun 1990, salah satu karyanya masuk dalam sepuluh karya terbaik Biennale II Yogyakarta. Enam tahun kemudian, ia memperoleh penghargaan sebagai salah satu dari sepuluh pelukis kaligrafi terbaik Indonesia dari Galeri Nasional Jakarta.

Pencapaian tersebut menunjukkan bahwa perjalanan Hendra bukan perjalanan seorang pelukis daerah yang kemudian sesekali tampil di tingkat nasional. Sejak awal, ia sudah memasuki lingkungan seni rupa Indonesia yang lebih luas.

Dari Huruf Menuju Lanskap

Pada fase awal perkembangan artistiknya, Hendra dikenal kuat dengan lukisan kaligrafi Islam. Namun menariknya, ia tidak berhenti pada kaligrafi.

Dalam sebuah penelitian mengenai karya-karyanya, perkembangan seni Hendra Buana dibaca sebagai upaya mengolah kekayaan artistik dan maknawi tradisi kaligrafi Arab ke dalam bahasa visual seni kontemporer. Artinya, huruf tidak lagi semata-mata berfungsi sebagai tulisan, tetapi menjadi unsur visual yang dapat mengalami transformasi bentuk, komposisi, warna dan simbol.

Di situlah salah satu kekuatan Hendra. Ia tidak memperlakukan tradisi sebagai pagar. Tradisi justru dijadikannya sebagai pintu.

Kaligrafi menjadi titik berangkat untuk memasuki ruang ekspresi yang lebih luas. Huruf-huruf Arab, ayat-ayat suci, ornamen dan simbol Islam kemudian berinteraksi dengan lanskap, figur, alam dan dunia imajinasi.

Dalam perjalanan berikutnya, bahkan ketika kaligrafi tidak lagi tampil secara dominan, spiritualitas tidak pernah benar-benar meninggalkan kanvasnya.
Hendra sendiri pernah menegaskan bahwa meskipun ia mulai berpaling kepada lanskap, ia tidak meninggalkan kaligrafi. Baginya, karya-karyanya tetap memiliki dasar religius.

Dengan demikian, perubahan bentuk bukan berarti perubahan keyakinan. Yang berubah adalah bahasa. Dari bahasa huruf menuju bahasa alam. Dari ayat yang terbaca menuju ayat yang terlihat.

Alam Takambang Jadi Guru

Di sinilah latar kebudayaan Minangkabau menjadi penting untuk memahami Hendra Buana. Minangkabau memiliki filosofi yang sangat kuat: alam takambang jadi guru. Alam yang terbentang adalah guru.

Dalam kerangka ini, alam bukan benda mati yang hanya menjadi objek untuk dilukis. Alam merupakan ruang belajar manusia. Gunung, air, hutan, sawah, sungai, langit, hewan dan seluruh kehidupan di dalamnya mengandung tanda-tanda yang dapat dibaca manusia. Hendra membawa semangat itu ke dalam kanvas.

Tidak mengherankan apabila pada salah satu pameran tunggalnya di Taman Ismail Marzuki pada 2011 ia menggunakan tema “Alam Takambang Jadikan Guru.”

Tema tersebut sesungguhnya dapat dibaca sebagai titik penting dalam perjalanan kreatif Hendra. Ia tidak lagi sekadar melukis alam. Ia membaca alam.

 Dan ketika alam dibaca sebagai tanda, lanskap berubah menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar panorama. Gunung dapat menjadi simbol keteguhan. Air dapat menjadi simbol kehidupan sekaligus ancaman. Laut dapat menjadi ruang ketidakpastian. Langit dapat menjadi ruang spiritual. Binatang dapat menjadi bagian dari kehidupan yang harus dijaga. Dan manusia menjadi makhluk yang terus berhadapan dengan pilihan moralnya sendiri.

Ketika Lanskap Menjadi Dunia Imajinasi

Perubahan itu semakin terlihat dalam karya-karya Hendra pada fase berikutnya. Ia kemudian dikenal dengan lanskap yang tidak sepenuhnya tunduk kepada realitas fotografis.

Dalam pameran Peaceful in Faith II di Jogja Gallery pada 2012, misalnya, Hendra menghadirkan puluhan karya yang berangkat dari kisah para nabi, perdamaian dan pesan spiritual. Salah satu karya yang menonjol adalah Hikayat Bahtera Nuh. Dalam karya tersebut, bahtera, binatang, perbukitan dan lanskap tidak sekadar menjadi ilustrasi kisah keagamaan, tetapi membangun sebuah dunia simbolik.

Di tangan Hendra, kisah lama memperoleh ruang visual baru. Inilah yang membuat karya-karyanya menarik. Ia tidak sekadar menggambar kembali cerita. Ia menafsirkan cerita. Perbedaan ini penting.
Ilustrator mungkin bertugas menggambarkan apa yang terjadi dalam sebuah kisah. Seorang seniman seperti Hendra berusaha menangkap makna yang tersembunyi di balik kisah itu.

Maka Bahtera Nuh bukan hanya kapal. Ia adalah keselamatan. Ia adalah harapan. Ia adalah seleksi moral. Ia adalah perjalanan melewati bencana. Dan akhirnya, ia adalah metafora tentang kehidupan manusia.

Bahtera yang Tidak Pernah Selesai

Tema Bahtera Nuh menjadi salah satu pintu penting untuk memahami Hendra Buana. Pada 2003, ia menyelesaikan sebuah karya besar bertajuk Bahtera Nuh, berukuran sekitar 3 × 1,5 meter. Karya tersebut kemudian menjadi salah satu karya penting yang terus diperbincangkan dalam perjalanan kreatifnya.

Menariknya, tema tersebut tidak berhenti pada satu kanvas. Dalam perkembangan berikutnya muncul karya-karya yang masih berkaitan dengan kisah bahtera, antara lain Sebermula Jadi Hikayat Bahtera Nabi Nuh dan Yang Terdampar di Bukit Jodi. Karya-karya tersebut kembali menghidupkan kisah bahtera dalam lanskap surealis dan imajinatif.
Ini menunjukkan bahwa bagi Hendra, sebuah tema tidak selalu selesai ketika sebuah lukisan selesai.

 Tema dapat kembali. Dibaca ulang. Diperluas. Dipertanyakan. Bahkan mungkin, tanpa disadari oleh sang seniman ketika pertama kali melukisnya, sebuah karya dapat menemukan makna baru ketika zaman berubah.

Di sinilah kekuatan karya seni yang besar. Ia tidak hanya memiliki waktu penciptaan. Ia memiliki waktu pembacaan.

Hendra Buana dan Pameran 2025

Perjalanan panjang tersebut memperoleh momentum penting ketika NEO Gallery Jakarta menyelenggarakan pameran tunggal Hendra Buana pada 2–16 Februari 2025.

Pameran tersebut mengangkat karya-karya masterpiece Hendra dan dikurasi oleh Dio Pamola. Sumber pemberitaan mengenai jumlah karya yang dipamerkan memang tidak sepenuhnya konsisten—ada yang menyebut 42 karya, sementara pemberitaan lain menyebut 66 karya—namun keduanya sepakat bahwa pameran itu memperlihatkan keluasan eksplorasi artistik Hendra.

Yang menarik bukan hanya jumlah karya. Yang lebih penting adalah perkembangan bahasa visualnya. Hendra tampil semakin jauh dari batas-batas konvensional lukisan kaligrafi.

Karya seperti Arau dalam Fantasi, Arwana dalam Fantasi, Yin Yang, Dulu, Kini, dan Nanti, Suatu Sore di Tilatang Kamang, serta karya-karya bertema Bahtera Nuh memperlihatkan bagaimana ia membangun dunia visual yang berada di antara kenyataan dan imajinasi. Arau bukan sekadar Arau. Tilatang Kamang bukan sekadar Tilatang Kamang. Bahtera bukan sekadar bahtera. Semuanya telah menjadi ruang metaforis.

Sejarah, Ingatan dan Tanah Minang

Karya Suatu Sore di Tilatang Kamang, misalnya, membawa kita kepada sejarah.
Lanskap yang berkabut dan penuh misteri dapat dibaca sebagai ruang ingatan. Di dalamnya terdapat jejak sejarah, termasuk bayangan Perang Padri yang masih menjadi bagian dari memori kolektif Minangkabau.

Ini menarik karena menunjukkan bahwa Hendra tidak menggunakan alam hanya sebagai latar. Alam menyimpan sejarah. Tanah menyimpan ingatan. Sebuah bukit bukan hanya bentuk geografis. Ia bisa menjadi saksi. Sebuah lembah bukan hanya cekungan bumi. Ia bisa menjadi ruang tempat sejarah manusia berlangsung.

Dengan cara demikian, lanskap Hendra sebenarnya memiliki dimensi historis. Ia melukis alam, tetapi di dalam alam itu ada manusia. Ia melukis gunung, tetapi di dalam gunung itu ada sejarah. Ia melukis air, tetapi di dalam air itu ada kehidupan dan ancaman.

Dari Realitas Menuju Surealisme

Pameran 2025 memperlihatkan semakin jelas kecenderungan Hendra terhadap surealisme dekoratif.

Warna-warna berani, tekstur yang dinamis, simbol yang kaya dan lanskap yang tidak sepenuhnya realistis membawa penonton masuk ke dunia yang berada di antara kenyataan dan fantasi.

Namun menyebut Hendra sekadar sebagai pelukis surealis juga terlalu menyederhanakan. Sebab surealisme Hendra bukan semata-mata permainan bawah sadar. Ada struktur spiritual di dalamnya. Ada kisah. Ada sejarah. Ada agama. Ada kebudayaan. Ada alam. Ada pertanyaan tentang manusia. 

Itulah sebabnya karya Hendra terasa dekoratif sekaligus kontemplatif. Mata pertama-tama dibuat tertarik oleh warna dan bentuk. Tetapi setelah mata menikmati keindahannya, pikiran mulai bertanya: Apa sebenarnya yang sedang saya lihat?

Dan setelah pertanyaan itu muncul, karya mulai bekerja di dalam kesadaran penonton.

Seni sebagai Jalan Spiritual

Di sinilah Hendra Buana menemukan identitasnya. Ia bukan semata-mata pelukis kaligrafi. Bukan pula hanya pelukis lanskap. Bukan hanya pelukis surealisme.

Identitas artistiknya justru berada pada pertemuan berbagai dunia tersebut. Kaligrafi memberinya akar spiritual. Minangkabau memberinya cara memandang alam. Yogyakarta memberinya lingkungan pendidikan dan pergulatan seni. Sejarah memberinya bahan renungan. Kisah para nabi memberinya narasi. Lanskap memberinya ruang visual. Surealisme memberinya kebebasan untuk keluar dari kenyataan literal. Semua itu kemudian bertemu di atas kanvas.

Karena itu, perjalanan Hendra dapat dibaca sebagai perjalanan dari huruf menuju alam, dari alam menuju imajinasi, dan dari imajinasi menuju perenungan spiritual.

Seorang Maestro yang Terus Berubah

Ada satu hal yang patut dicatat dari perjalanan Hendra: ia tidak membangun reputasi dengan mengulang satu formula.

Profilnya sendiri mencatat bahwa ia tidak terpaku pada satu bentuk ungkap yang monoton. Ia pernah hadir melalui karya kaligrafis Islami yang kaya ornamen, kemudian karya spektakuler, dan pada fase lain melalui karya abstrak minimalis berupa lukisan tapestry hitam-putih maupun berwarna.
Sikap semacam itu penting dalam dunia seni.

Seorang seniman dapat dikenal karena sebuah gaya, tetapi seorang maestro biasanya justru diuji oleh kemampuannya untuk terus menemukan dirinya kembali. Hendra tampaknya memahami hal itu. Ia tidak menjadikan gaya sebagai penjara. Baginya, bentuk boleh berubah. Tetapi gagasan dan keyakinan dapat terus mengalir di bawah perubahan itu.

Mungkin inilah yang menjelaskan mengapa kaligrafi tetap menjadi akar meskipun bentuk visualnya semakin jauh dari kaligrafi konvensional. Spiritualitas tidak selalu harus ditulis dengan huruf Arab. Spiritualitas juga dapat dilukiskan melalui gunung. Melalui air. Melalui langit. Melalui bahtera. Melalui kehidupan yang sedang bergerak menuju keselamatan.

Bahtera Nuh dan Indonesia Hari Ini

Pada titik ini, kita kembali kepada karya Bahtera Nuh.

Karya yang lahir pada 2003 tentu tidak dibuat untuk menjawab persoalan Indonesia pada 2026. Ia tidak dirancang sebagai komentar terhadap pemerintahan tertentu. Ia juga bukan ramalan tentang agenda politik hari ini.

Namun justru di situlah kehebatan karya seni. Karya yang besar dapat menyeberangi waktu.
Ketika Indonesia hari ini berbicara tentang swasembada pangan, kemandirian energi, ketahanan air dan kemampuan berdiri di atas kaki sendiri, Bahtera Nuh tiba-tiba memperoleh ruang pembacaan baru.

Bahtera adalah ruang penyelamatan. Tetapi apa yang harus diselamatkan? Jawabannya tidak hanya manusia. Tanah harus diselamatkan. Air harus diselamatkan. Hutan harus diselamatkan. Benih harus diselamatkan. Keanekaragaman hayati harus diselamatkan. Dan pengetahuan manusia tentang bagaimana hidup bersama alam juga harus diselamatkan.

Sebab bangsa yang ingin berdaulat atas pangan tetapi kehilangan tanah pertanian, sesungguhnya sedang kehilangan bagian dari bahteranya. Bangsa yang mengejar energi tetapi merusak ekosistem air, sedang merusak bagian lain dari bahteranya.
Bangsa yang membangun ekonomi tetapi kehilangan lingkungan hidup, sedang membuat bahtera yang mungkin tampak megah dari luar tetapi rapuh dari dalam.

Karena itu, Bahtera Nuh dapat dibaca sebagai metafora tentang ketahanan kehidupan. Dan dalam pembacaan semacam ini, karya Hendra Buana terasa semakin aktual.

Dari Minangkabau untuk Indonesia

Hendra Buana berangkat dari sebuah kampung di sekitar Bukittinggi. Ia tumbuh dalam lingkungan kebudayaan Minangkabau. Ia belajar seni di Padang. Ia kemudian menempa diri di Yogyakarta.
Karyanya berkelana ke Jakarta, Bandung, Brunei, Jerman, Amerika Serikat dan berbagai ruang pamer lainnya. Jejak pamerannya menunjukkan perjalanan yang panjang dari pameran bersama pada akhir 1980-an hingga pameran tunggal dan pameran besar pada dekade-dekade berikutnya.

Perjalanan itu membuat Hendra menarik untuk ditempatkan dalam peta seni rupa Indonesia bukan hanya sebagai “pelukis dari Sumatera Barat”.
Ia adalah bagian dari perjalanan seni rupa Indonesia modern-kontemporer yang membawa pengalaman lokal ke ruang nasional dan internasional. Dan di sinilah Minangkabau dalam dirinya menjadi penting. Ia tidak harus melukis rumah gadang untuk menjadi Minangkabau. Tidak harus menggambar rangkiang. Tidak harus menampilkan pakaian adat.

Minangkabau dapat hadir sebagai cara memandang dunia. Alam takambang jadi guru bukan sekadar tema. Ia adalah epistemologi. Cara memperoleh pengetahuan melalui alam. Cara membaca tanda-tanda kehidupan. Cara memahami hubungan manusia dengan lingkungannya. Dan semangat itu terasa dalam karya-karya Hendra.
Maestro yang Melukis Pertanyaan

Pada akhirnya, ukuran seorang maestro bukan hanya jumlah pameran, penghargaan atau besarnya ukuran kanvas. Ukuran yang lebih penting adalah: apakah karyanya mampu membuat orang berhenti, melihat, lalu berpikir?

Dalam hal itu, karya Hendra Buana memiliki daya yang khas. Ia menawarkan keindahan terlebih dahulu. Kemudian menawarkan misteri. Lalu pertanyaan. Apa hubungan manusia dengan alam? Apa hubungan sejarah dengan masa kini? Apa hubungan iman dengan kehidupan? Apa yang terjadi ketika manusia kehilangan keseimbangan?
Dan pada akhirnya: Apa yang sebenarnya sedang kita selamatkan? Pertanyaan-pertanyaan itu membuat karya Hendra lebih panjang umur daripada sekadar masa pamerannya.

Lukisan selesai ketika kuas berhenti bergerak. Tetapi makna sebuah lukisan tidak selesai ketika seniman meletakkan kuas.Makna itu baru mulai hidup ketika mata penonton bertemu dengan kanvas.

Ketika Kanvas Menjadi Bahtera

Lebih dari empat dekade perjalanan Hendra Buana menunjukkan sebuah proses pencarian yang tidak sederhana. Dari Koto Tangah Hilir menuju Padang. Dari Padang menuju Yogyakarta. Dari kaligrafi menuju lanskap. Dari lanskap menuju dunia imajinasi.

Dari kisah para nabi menuju pertanyaan tentang manusia dan alam. Dari pengalaman lokal menuju ruang seni rupa nasional dan internasional. Dan dari semua perjalanan itu, Hendra tampaknya tetap membawa satu keyakinan: bahwa seni bukan sekadar persoalan keindahan.

Seni adalah jalan untuk memahami kehidupan. Karena itu, ketika kita berdiri di depan Bahtera Nuh, misalnya, yang sesungguhnya kita hadapi bukan hanya sebuah lukisan tentang kapal yang pernah disebut dalam kisah kenabian.

Kita sedang berhadapan dengan sebuah pertanyaan tentang keselamatan. Tentang apa yang akan kita bawa ketika dunia berubah. Tentang apa yang akan kita pertahankan ketika badai datang. Tentang apa yang tidak boleh kita biarkan tenggelam. Dan mungkin di situlah Hendra Buana menemukan tempatnya sebagai maestro.

Ia tidak hanya melukis dunia. Ia membangun sebuah dunia di atas kanvas—dunia yang indah, ganjil, penuh warna, spiritual, sekaligus menyimpan kegelisahan. Kanvas-kanvas itu pada akhirnya menjadi semacam bahtera.

Kita masuk ke dalamnya bukan untuk melarikan diri dari kenyataan, melainkan untuk melihat kenyataan dari jarak yang berbeda. Dan setelah keluar dari sana, kita mungkin melihat dunia dengan mata yang sedikit berbeda pula.

Itulah seni yang hidup. Itulah karya yang tidak selesai. Dan itulah perjalanan Hendra Buana: seorang pelukis yang terus mencari bentuk untuk mengucapkan sesuatu yang pada dasarnya tidak pernah sederhana—tentang Tuhan, manusia, alam, sejarah, dan harapan agar kehidupan tetap diselamatkan. (**)

(Yurnaldi, wartawan dan pelukis yang sudah mengunjungi sejumlah museum yang memamerkan karya karya pelukis hebat dunia di sejumlah negara. Editorial Kompas 1995-2011, penulis dan sastrawan, tinggal di Padang)
×
Berita Terbaru Update