Oleh YURNALDI, wartawan utama.
padanginfo.com --Dari Nias, Aceh, Jawa, Palembang, Batak, India, Papua hingga Minangkabau, mereka membawa identitas masing-masing untuk merayakan satu rumah bernama Padang.
Malam belum terlalu larut ketika panggung mulai dipenuhi warna.
Gerak tubuh para penari berubah mengikuti irama. Kostum-kostum tradisional bergerak dalam cahaya lampu. Bunyi musik dari berbagai tradisi silih berganti. Sesekali terdengar tepuk tangan penonton.
Nias tampil. Aceh menyusul. Palembang membawa warna seni budayanya. India hadir dengan tarian dan musiknya. Papua memperlihatkan ekspresi budayanya. Minangkabau tampil dengan identitas yang menjadi akar budaya kota. Kuda Kepang ikut menghidupkan suasana.
Berbeda asal-usul, berbeda sejarah, berbeda bahasa budaya.
Tetapi Sabtu (8/8/2026) malam itu mereka berada di panggung yang sama di Pantai di kawasan Danai Cimpago.
Panggung Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat.
Di antara penonton, Wali Kota Padang Fadly Amran dan anggota Forum Komunikasi Pimpinan Daerah menyaksikan pertunjukan tersebut. Ia tidak sekadar duduk sebagai pejabat yang hadir memenuhi undangan. Ia mengikuti pertunjukan, menyapa komunitas, dan menikmati makanan yang disajikan oleh berbagai kelompok etnis.
Ia mencicipi makanan khas Aceh. Menikmati kuliner mpekmpek Palembang, buatan Rumah Mpekmpek Lamakbana Ayuk Lina, Berinteraksi dengan komunitas yang membawa makanan dan kesenian dari tanah leluhur mereka.
Ada sesuatu yang menarik dari adegan sederhana itu.
Seorang wali kota sedang mencicipi bukan sekadar makanan. Ia sedang mencicipi keragaman kotanya sendiri.
Padang Harmoni Festival digelar Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Kota Padang yang diketuai Suardi Z Datuk Garang, dalam rangka memperingati Hari Jadi Kota Padang ke-357.
Namanya sudah mengandung pesan: harmoni. Bukan keseragaman. Harmoni.
Sebab musik menjadi indah bukan karena hanya ada satu nada. Ia indah karena berbagai nada bertemu dalam komposisi yang tepat.
Begitu pula sebuah kota. Ia tidak menjadi kuat karena seluruh warganya memiliki latar belakang yang sama. Kota justru menjadi kaya ketika perbedaan dapat hidup berdampingan dan saling memperkaya.
Itulah wajah yang hendak diperlihatkan Padang melalui festival tersebut.
Kota yang Dihuni Banyak Identitas
Padang memang identik dengan Minangkabau.
Nama Padang bahkan sering menjadi pintu masuk orang mengenal Sumatera Barat: rendang, rumah gadang, saluang, dendang, tari tradisional, dan adat Minangkabau.
Tetapi Padang bukan museum kebudayaan Minangkabau.
Ia adalah kota yang hidup dan bergairah sejak 357 tahun lalu sampai sekarang.
Orang datang dan pergi. Berdagang. Menuntut ilmu. Bekerja. Menikah. Membentuk keluarga. Menetap. Kemudian anak-anak mereka tumbuh sebagai bagian dari kota.
ADalam perjalanan itu, berbagai etnis ikut membentuk wajah Padang.
Ada masyarakat Tionghoa, Nias. India, Aceh. Jawa Palembang, Batak, Papua, dan berbagai komunitas etnik lainnya. Setidaknya, menurut catatan FPK Kota Padang.
Mereka membawa sesuatu dari tanah asalnya: bahasa, makanan, musik, tarian, tradisi, ingatan dan identitas.
Namun setelah puluhan bahkan ratusan tahun tinggal di Padang, identitas itu tidak lagi hanya menjadi milik komunitas.
Ia menjadi bagian dari mozaik kota.
Karena itulah keberagaman sebenarnya bukan persoalan tentang “mereka” dan “kita”.
Pada titik tertentu, semua berubah menjadi kita.
Seni yang Tidak Membutuhkan Penerjemah
Ada alasan mengapa kesenian menjadi bagian penting dalam festival ini.
Seni memiliki kemampuan menjangkau manusia tanpa banyak kata.
Orang tidak harus memahami seluruh sejarah Nias untuk menikmati tariannya.
Tidak harus menguasai bahasa Aceh untuk menikmati musiknya.
Tidak harus mengetahui perjalanan budaya India untuk menikmati geraknya.
Cukup melihat. Mendengar. Merasakan. Kemudian muncul rasa ingin tahu.
Dari rasa ingin tahu lahir percakapan. Dari percakapan lahir pengenalan.
Dan dari pengenalan, prasangka perlahan bisa runtuh.
Pemberitaan sebelumnya menyebutkan sedikitnya 13 paguyuban etnis terlibat dalam rangkaian Padang Harmoni Festival. Salah satu atraksi yang dipersiapkan adalah tari kolosal “Urang Padang Jalan Barampek”, yang menggabungkan sejumlah unsur budaya, antara lain Minangkabau, India, Nias, Chinese Dance dan Tambur HTT.
Bayangkan sebuah panggung. Gerakan yang berbeda. Musik yang berbeda. Busana yang berbeda.
Tetapi semuanya bergerak dalam satu pertunjukan.
Bukankah itu gambaran sederhana tentang Indonesia?
Dari Panggung ke Meja Makan
Kemudian ada makanan.
Barangkali tidak ada cara yang lebih sederhana untuk memperkenalkan kebudayaan selain melalui makanan.
Di arena festival, makanan khas berbagai komunitas disajikan di meja-meja tamu kehormatan.
Fadly Amran ikut mencicipinya. Kuliner Aceh. Makanan Mpekmpek Palembang.
Dan berbagai sajian yang dibawa komunitas lainnya.
Di atas meja, identitas menjadi lebih cair. Tidak ada jarak antara pejabat dan warga.
Tidak ada batas antara “budaya mayoritas” dan “budaya minoritas”.
Yang ada hanya orang-orang yang duduk bersama. Menikmati kuliner dan bergaman seni budaya.
Seseorang menyodorkan makanan. Yang lain mencicipi.
Kemudian bertanya: “Ini makanan apa?” “Bumbunya apa?”
“Dari daerah mana?”
Percakapan kecil seperti itu tampak sepele.
Tetapi justru dari percakapan semacam itulah sebuah masyarakat belajar mengenal satu sama lain.
Toleransi sering kali tidak lahir dari pidato panjang. Ia tumbuh dari perjumpaan-perjumpaan kecil berulang.
Fadly dan Politik Perjumpaan
Bagi Fadly Amran, keberagaman bukan tema yang muncul hanya ketika festival berlangsung.
Dalam pertemuan dengan SETARA Institute pada Juli 2026, ia membicarakan pentingnya memperkuat toleransi dan harmoni di Kota Padang. Pemerintah kota juga menyiapkan festival sebagai ruang perjumpaan antaretnis dan antarbudaya.
Langkah itu penting. Sebab kota yang majemuk membutuhkan lebih dari sekadar aturan. Ia membutuhkan ruang perjumpaan.
Orang yang tidak pernah bertemu akan mudah membangun prasangka. Orang yang sering bertemu akan mudah mengenal. Dan orang yang sudah saling mengenal biasanya lebih sulit untuk saling membenci.
Karena itu, festival semacam Padang Harmoni Festival sebenarnya bukan sekadar agenda kesenian. Ia adalah infrastruktur sosial. Panggungnya mungkin sementara. Tetapi hubungan yang lahir dari perjumpaan dapat bertahan jauh lebih lama.
357 Tahun dan Sebuah Pertanyaan
Banyak orang tak menyangka Padang tahun ini berusia 357 tahun. Usia yang panjang bagi sebuah kota.
Tetapi pertanyaan terpenting bukan berapa banyak gedung yang telah dibangun. Bukan pula berapa banyak wisatawan yang datang. Bukan hanya berapa banyak investasi yang masuk.
Ada pertanyaan yang lebih mendasar: Seberapa nyaman orang yang berbeda merasa menjadi bagian dari kota ini?
Sebab ukuran kemajuan sebuah kota juga dapat dilihat dari cara kota memperlakukan perbedaannya.
Apakah setiap kelompok merasa memiliki ruang?
Apakah identitas mereka dihargai? Apakah mereka dapat memperkenalkan kebudayaannya tanpa merasa harus menyembunyikannya? Dan yang lebih penting: apakah semua orang merasa bahwa Padang adalah rumahnya?
Pertanyaan pertanyaan itulah yang membuat festival ini memiliki makna lebih jauh daripada sekadar hiburan.
Harmoni Tidak Boleh Bertemu di Festival
Namun pekerjaan sesungguhnya justru dimulai setelah festival selesai.
Ketika lampu panggung dimatikan. Ketika musik berhenti. Ketika stan makanan/kuliner dibongkar. Ketika para penari pulang.
Harmoni harus kembali hadir di jalan jalan kota. Di Pasar. Di sekolah. Di kampus. Di tempat kerja. Di lingkungan permukiman. Di ruang ruang publik.
Sebab toleransi tidak diuji ketika semua orang sedang berpesta. Toleransi diuji ketika muncul perbedaan kepentingan. Ketika muncul konflik. Ketika ada kesalahpahaman. Ketika seseorang merasa kelompoknya tidak diperlakukan adil.
Di sanalah kemampuan sebuah kota merawat harmoni benar-benar diuji.
Karena itulah festival --pertama kali diaelenggarakan -- hanyalah awal. Ia memberikan pengalaman bahwa perbedaan menyenangkan ketika dipertemukan. Tugas berikutnya adalah membawa pengalaman itu ke kehidupan sehari hari.
Padang Rumah yang Kita Bangun Bersama
Pada akhirnya, Padang Harmoni Festival bukan pertama tentang Tionghoa.Bukan tentang Nias. Bukan tentang Aceh. Bukan tentang Batak Bukan tentang Jawa. Bukan tentang Palembang. Bukan tentang India. Bukan pula semata-mata tentang Minangkabau.
Festival ini adalah tentang Padang. Tentang sebuah kota yang dibangun oleh banyak tangan.
Tentang orang-orang yang datang dari berbagai tempat lalu memilih tinggal dan menjadi bagian dari perjalanan kota.
Tentang anak-anak yang mungkin lahir di Padang, tetap memiliki darah dan cerita dari tempat lain.
Tentang generasi yang kelak tidak lagi bertanya, "Kamu orang mana?" Melainkan berkata: "Kita sama-sama orang Padang".
Mungkin itulah makna terdalam dari harmoni. Bukan menghapus perbedaan. Bukan pula memaksa orang menjadi sama. Tetapi membuat setiap orang merasa bahwa perbedaannya diterima sebagai bagian dari sebuah rumah bersama.
Festival malam itu tidak banyak pidato, tidak lama di depan corong.
Tanpa banyak kata, budaya berupa kesenian dan kuliner, Padang Harmoni Festival telah menyampaikan pesan yang paling sederhana: kita boleh berbeda dalam asal usul. Tetapi kita tidak harus berbeda dalam tujuan.
Dan di usia 357 tahun, Padang sedang belajar sekali lagi bahwa kota yang besar bukanlah kota yang seragam. Kota yang besar adalah kota yang mampu membuat keberagaman menjadi kekuatan.
Padang bukan hanya tempat kita tinggal. Padang adalah rumah yang kita bangun bersama.(**)