Oleh Yurnaldi, Pengamat Kebudayàan
Belakangan saya sering dapat kiriman foto lukisan karya pelukis Hendra Buana, Maestro yang terus berkarya. Buka dapat lukisannya. Melihat Hendra Buana melukis langsung dan berpameran juga pernah.
Yang menarik belakangan ini, Hendra Buana sering mencatat suatu peristiwa dalam bentuk karya lukis. Semisal bencana di Sumatera Barat, kampung halamannya. Dan yang terbaru adalah lukisan erupsi anak Kramat.
Yang membuat karya terbaru Hendra Buana ini kuat adalah pertemuan tiga lapis: wahyu, alam, dan peristiwa aktual.
Hendra Buana memilih QS Ali Imran ayat 190—ayat yang mengajak manusia memperhatikan penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang sebagai tanda-tanda kebesaran Allah bagi ulul albab.
Dan pilihan itu terasa sangat kontekstual ketika karya ini lahir bersamaan dengan erupsi Anak Krakatau pada awal September 2026. Badan Geologi mencatat episode erupsi menerus berlangsung sekitar 25 jam, 4–6 September 2026, dan hingga 11 September statusnya masih Level III (Siaga).
Jadi, Hendra tidak sekadar menulis ayat di atas gambar gunung. Ia seperti sedang mengatakan:
Alam adalah teks. Gunung adalah tanda.
Letusan adalah peringatan. Dan manusia diminta membaca.
Itulah yang saya kira menjadi kekuatan konseptual karya ini. Yang paling menarik justru bukan gunungnya Perhatikan komposisinya.
Gunung Krakatau menjadi semacam poros vertikal. Dari puncak yang menyala, mata kita dibawa ke bawah, melewati kaligrafi, kemudian menuju laut. Ada kesan hubungan langit–bumi–laut.
Kaligrafi tidak ditempelkan sebagai ornamen dekoratif. Ia menjadi tubuh gunung itu sendiri.
Ini penting.
Dalam banyak karya kaligrafi, keindahan huruf sering menjadi tujuan utama. Pada karya Hendra, huruf justru menjadi gagasan. Ayat dibaca. Gunung dilihat. Letusan dirasakan.
Kemudian semuanya dikembalikan kepada kesadaran manusia. Hendra Buana sedang membawa kaligrafi keluar dari masjid
Ini yang menurut saya layak dicatat dalam apresiasi seorang maestro.
Kaligrafi Hendra tidak berhenti pada keindahan khat. Ia membawa kaligrafi ke ruang seni rupa kontemporer: menghadirkan sejarah, lingkungan, bencana, spiritualitas, dan peristiwa aktual dalam satu bidang karya.
Karya ini bahkan bisa dibaca sebagai “kaligrafi peristiwa”—kaligrafi yang lahir karena sebuah kejadian sejarah sedang berlangsung.
Dan itu membuatnya berbeda.
Erupsi Anak Krakatau bukan sekadar objek visual. Ia menjadi pemantik perenungan.
NASA sendiri mendokumentasikan erupsi Anak Krakatau pada September 2026 dari satelit Landsat 8, setelah letusan besar mengirim abu ke atmosfer dan mengganggu penerbangan serta kualitas udara.
Hendra Buana tidak melukis Krakatau.
Ia membaca Krakatau. Di tangan seorang maestro, gunung yang sedang bergolak tidak berhenti sebagai fenomena geologi. Ia berubah menjadi metafora tentang kebesaran Tuhan dan keterbatasan manusia.
QS Ali Imran: 190 menjadi ruh karya. Krakatau menjadi tubuhnya. Laut menjadi ruang kontemplasinya. Dan manusia menjadi pembacanya.
Di sinilah kaligrafi memperoleh kehidupan baru.
Huruf-huruf Arab tidak lagi sekadar indah karena bentuknya. Ia menjadi bahasa perenungan. Garis-garis kaligrafi yang mengalir di tubuh gunung seolah menyatukan firman dengan fenomena alam: bahwa ayat-ayat Tuhan bukan hanya yang tertulis dalam kitab, tetapi juga yang terbentang di semesta.
Krakatau meletus. Hendra menulis. Alam berbicara.
Dan kepada manusia, karya ini seperti mengajukan pertanyaan sederhana tetapi dalam:
Apakah kita masih mampu membaca tanda?
Menurut saya, inilah salah satu kualitas seorang maestro: bukan hanya menghasilkan karya yang indah, tetapi mampu menangkap momentum zaman, lalu mengubahnya menjadi karya yang mempunyai umur lebih panjang daripada peristiwa yang melahirkannya.
Kalau erupsi Krakatau nanti berhenti dan abu telah mengendap, peristiwa itu akan menjadi sejarah.
Tetapi karya Hendra Buana berpotensi menjadi catatan visual-spiritual tentang bagaimana manusia memandang peristiwa itu.
Dan itu jauh lebih penting daripada sekadar lukisan yang sedang aktual.
Hendra Buana tidak sedang mengejar aktualitas. Ia sedang mengabadikan aktualitas menjadi perenungan.
Itulah apresiasi yang menurut saya pantas diberikan kepada karya terbaru seorang maestro.
(Yurnaldi, wartawan utama, pelukis dan kaligrafer. Sering meliput berbagai pameran dan kunjungi berbagai museum di sejumlah negara. Tinggal di Padang).
@sorotan , Hendra Buana , Muharyadi , Asrilkoto Asko