Oleh Khairul Jasmi
( Jurnalis tinggal di Padang)
padanginfo.com- Saya hadir menyaksikan berhari-hari situasi di Kuala Simpang Aceh Tamiang. Juga daerah sekitarnya. Terakhir hadir di lokasi pembangunan huntara.
Jangankan Kuala Simpang, Langsa di sebelahnya juga terkena banjir besar pertama dalam sejarah. Dengan demikian, pemilihan lokasi huntara yang jauh dari sungai besar Tamiang, sudah tepat. Tamiang daerahnya datar, maklum terletak di pantai Timur Sumatera, berbanding terbalik dengan Barat yang berbukit dan terjal.
Pada beberapa musibah di Sumatera Barat sebelum ini, saya terlibat langsung atau tak langsung dalam pembangunan huntara. Dari pengalaman itu dan saya teliti di Tamiang maka yang di Aceh Tamiang, terbaik. Ini dibangun oleh BUMN Karya di bawah kendali Danantara.
Tiang-tiangnya besi, jeriaunya kuat, dinding juga. Ruangan termasuk lega sebagai sebuah hunian sementara. Seperti rumah di sebuah komplek.
Di tiap huntara ada dua dipan, ada suami istri dan anak-anak. Jadi itu bukan sekadar bangunan segi empat berpintu, namun hunian sementara yang sangat layak. Sampai detik ini, sama sekali tidak ada keluhan soal huntara di Tamiang, entah kalau saya tidak tahu.
Yang saya tahu, insinyur BUMN Karya, para tukang profesional bekerja siang malam. Setelah siap mereka pergi ke rumah memeluk anak dan istri, itupun jika mereka selamat dari musibah.
Saya menaruh rasa hormat kepada para tukang, mandor dan para insinyur yang bekerja untuk korban banjir, meskipun meraka dibayar.
Ada yang menyebut bencana Aceh ditimpa pula bencana medsos. Tentu saya paham, ini gara-gara kepala BNPB yang salah ucap. Lalu, minta maaf. Kata netizen, di Sumbar lebih cepat selesai ketimbang dua provinsi lain. Tentu, disebabkan dua provinsi lain lebih luas wilayah yang kena.
Saya saksikan Kuala Simpang yang berusaha bangkit, meski saya datang 20 hari setelah banjir. Tapi, saya sepekan di sana. Jadi telat sedikit, lumayan lama di TKP. Jangan bandingkan dengan relawan yang tak pulang-pulang, habis saya nanti.
Dan, saya yang sudah pergi dari Tamiang, masih saja membayangkan warga yang terdampak. Doeloe saya juga seperti mereka, untung dulu belum ada medsos. ***