Notification

×

Iklan

Iklan

Deepfake AI, Literasi Digital dan Masa Depan Kita

Sabtu, 06 Juni 2026 | 6/06/2026 WIB Last Updated 2026-06-06T06:43:34Z

Oleh Riri Satria
(Penyair tinggal di Jakarta)

padangonfo.com-Saya menulis catatan singkat ini ketika berada di Bandara Internasional Minangkabau, menunggu proses boarding pesawat menuju Jakarta. Selama berada di Padang, praktis sebagian besar waktu saya habiskan untuk membahas perkembangan Deepfake AI, terutama dampaknya terhadap kehidupan sosial, kemanusiaan, dan kebudayaan. 

Pada beberapa kesempatan, saya juga membicarakan pengaruh teknologi ini terhadap dunia kepenulisan, kepenyairan, dan sastra pada umumnya.

Satu hal yang menarik perhatian saya adalah kenyataan bahwa tidak semua orang memahami apa itu deepfake AI. Masih banyak yang belum mengetahui, apalagi menyadari, betapa cepat teknologi ini berkembang dan bagaimana dampaknya dapat memengaruhi kehidupan sehari-hari. Di berbagai forum diskusi, saya melihat bahwa literasi masyarakat mengenai AI, khususnya deepfake, masih perlu terus ditingkatkan.

Menariknya, tidak sedikit pula peserta diskusi yang tampak terkejut ketika mengetahui kemampuan teknologi deepfake AI saat ini. Sebagian bahkan langsung menganggap deepfake AI sebagai sesuatu yang sangat berbahaya. Saya memahami kekhawatiran tersebut, tetapi saya juga berpandangan bahwa deepfake, sebagaimana teknologi pada umumnya, pada dasarnya bersifat netral. 

Teknologi selalu memiliki dua sisi, seperti pisau bermata dua. Pisau dapur dapat digunakan untuk memotong bahan makanan dan membantu pekerjaan sehari-hari, tetapi dapat pula disalahgunakan untuk melukai orang lain. Persoalannya bukan semata-mata pada teknologinya, melainkan pada bagaimana manusia menggunakannya.

Karena itu yang perlu terus ditekankan adalah pentingnya literasi digital yang memadai dalam menghadapi perkembangan deepfake dan kecerdasan buatan secara umum. Selain kemampuan memahami teknologi, masyarakat juga perlu memiliki landasan etika dan moral yang kuat dalam menggunakan berbagai perangkat digital, termasuk media sosial yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. 

Kemajuan teknologi tanpa disertai tanggung jawab berpotensi melahirkan berbagai persoalan sosial yang tidak sederhana.

Saya juga menyampaikan pandangan bahwa fenomena deepfake AI di Indonesia kemungkinan akan mencapai titik yang semakin mengkhawatirkan menjelang Pemilu dan Pilkada serentak tahun 2028–2029. 

Pada masa-masa politik seperti itu, teknologi manipulasi suara, gambar, dan video berpotensi digunakan untuk memengaruhi opini publik, menciptakan disinformasi, bahkan menimbulkan kegaduhan sosial. 

Karena itu, kita perlu lebih berhati-hati, lebih kritis, dan lebih mawas diri dalam menerima maupun menyebarkan informasi.

Pendidikan literasi digital sejak dini juga menjadi kebutuhan yang semakin mendesak. Anak-anak dan generasi muda perlu dibekali kemampuan untuk membedakan antara fakta dan manipulasi digital, sekaligus memahami konsekuensi etis dari setiap aktivitas mereka di ruang siber. 

Hal ini penting agar mereka tidak mudah menjadi korban maupun pelaku penyebaran konten palsu, termasuk berbagai bentuk perundungan atau bullying yang dapat diperparah oleh penggunaan teknologi kecerdasan buatan.

Tidak semua yang kita lihat, dengar, atau baca di ruang digital merupakan realitas yang sesungguhnya. Di era kecerdasan buatan, kemampuan untuk memverifikasi informasi menjadi semakin penting. 

Jangan sampai kita terjebak menjadi bagian dari rantai penyebaran deepfake, hoaks, kepalsuan, dan kebohongan yang pada akhirnya dapat merugikan banyak orang. 

Literasi digital, nalar kritis, etika, dan tanggung jawab sosial merupakan bekal yang semakin diperlukan untuk menghadapi masa depan yang sedang datang dengan sangat cepat.

(Bandara Internasional Minangkabau, 6 Juni 2026)
×
Berita Terbaru Update