Notification

×

Iklan

Iklan

Kisah Dilla, Anak Pemulung yang Hampir Putus Kuliah, Namun Tidak Pernah Putus Asa

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 8/29/2026 WIB Last Updated 2026-08-29T03:46:46Z



padanginfo.com-Rabu, 26 Agustus 2026 | Pukul 13.30 WIB
Korong Gadang, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, Sumatera Barat  Di sini Dilla tinggal bersama orang tuanya.

Rumah sangat sederhana. Rumah yang tidak memiliki dinding megah, tidak memiliki perabot mewah, bahkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari pun harus melalui perjuangan panjang.

Namun, dari rumah-rumah seperti itulah terkadang lahir **mimpi-mimpi besar.**

Di sebuah rumah sederhana di **Korong Gadang, Kecamatan Kuranji, Kota Padang**, pada Rabu siang, 26 Agustus 2026, sebuah kisah perjuangan keluarga menyentuh hati banyak orang.

Kisah itu adalah kisah **Dilla**, seorang anak sulung yang hanya tinggal **satu semester lagi untuk menyelesaikan kuliahnya dan meraih wisuda.**

Tetapi langkah menuju toga hampir saja terhenti.

Bukan karena Dilla tidak mampu belajar.

Bukan karena ia kehilangan semangat.

Melainkan karena keadaan ekonomi keluarganya yang begitu berat.

---

### **BERAWAL DARI SEBUAH KABAR**

Semuanya bermula dari informasi yang disampaikan **Ustadz Munzir** tentang seorang anak pemulung yang hampir putus kuliah karena keterbatasan biaya.

Kabar itu kemudian ditindaklanjuti oleh **Ustadz Luki** bersama Ustadz Munzir.

Mereka berusaha mencari tahu keadaan sebenarnya hingga akhirnya dipertemukan dengan **Bu Sri dan putrinya, Dilla.**

Dari pertemuan itu terungkap sebuah perjuangan yang luar biasa.

Ayah dan ibu Dilla adalah **pemulung**.

Dengan pekerjaan yang penuh keterbatasan, mereka harus menghidupi dan menyekolahkan anak-anaknya.

Dilla adalah anak sulung.

Di saat kuliahnya tinggal satu semester lagi, dua adiknya juga sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi.

Sementara itu, **satu anak duduk di bangku SMA, satu di SMP, dan dua lainnya masih SD.**

Bayangkan...

**Tujuh anak.
Berbagai jenjang pendidikan.
Satu keluarga sederhana.
Dan orang tua yang setiap hari berjuang dari hasil memulung.**

Tetapi ada satu hal yang tidak pernah mereka pungut dari jalanan:

**Mereka tidak pernah memungut alasan untuk menyerah.**

Bu Sri dan suaminya tetap berjuang.

Tetap bekerja.

Tetap menyekolahkan anak-anaknya.

Dan tetap percaya bahwa **Allah akan membuka jalan bagi orang-orang yang bersungguh-sungguh.**

---

# **KABAR ITU SAMPAI KEPADA SENATOR JELITA DONAL**

Kondisi keluarga tersebut kemudian disampaikan kepada **Senator H. Jelita Donal, Lc.**, yang saat itu sedang menjalankan tugas di Jakarta.

Mendengar kisah perjuangan keluarga Bu Sri, beliau tidak sekadar mendengarkan.

Beliau memilih untuk **datang dan melihat langsung.**

Beliau pulang dari Jakarta dan pada **Rabu, 26 Agustus 2026 pukul 13.30 WIB**, bersama rombongan mengunjungi rumah Bu Sri di Korong Gadang.

Turut hadir **Bundo Kanduang Tazkiyah yang diketuai Bundo Dewi**.

Tiga mobil rombongan menjambangi rumah sederhana tersebut.

Kehadiran rombongan juga didampingi oleh **Ketua RT setempat.**

Tidak ada karpet merah.

Tidak ada gedung megah.

Tidak ada kemewahan.

Hanya sebuah rumah sederhana dan sebuah keluarga yang sedang berjuang mempertahankan **harapan masa depan anak-anaknya.**

Namun justru di tempat sederhana itulah, sebuah peristiwa besar terjadi.

---

# **“PENDIDIKAN AKAN MENGUBAH KEADAAN”**

Ustadz Jelita Donal sangat terkesan melihat kegigihan Bu Sri dan suaminya.

Orang tua yang mungkin tidak memiliki banyak harta, tetapi memiliki **kekayaan tekad yang luar biasa.**

Beliau kemudian menyampaikan nasihat yang begitu dalam.

**“Pendidikan akan mengubah keadaan. Pendidikan dapat mengubah peradaban.”**

Karena itu, Bu Sri dan suaminya diminta untuk tetap **tegar, sabar dan gigih memperjuangkan pendidikan anak-anaknya.**

Kesulitan hari ini bukanlah akhir dari kehidupan.

**Hari ini mungkin sulit.
Tetapi esok bisa berubah.**

Bahkan keadaan yang hari ini terasa begitu berat, suatu saat kelak dapat berubah **180 derajat**, salah satunya karena pendidikan.

Sebab perjuangan hari ini sedang menanam benih untuk masa depan.

**Keringat hari ini bisa menjadi kemuliaan esok hari.
Pengorbanan hari ini bisa menjadi kemajuan di masa depan.
Kesabaran hari ini bisa menjadi kebahagiaan keluarga di kemudian hari.**

Dan sebaik-baik kesabaran adalah kesabaran yang sepenuhnya bersandar kepada kekuasaan **ALLAH**, sembari terus mengharapkan keridhaan-Nya.

---

# **SATU TANGAN MENOLONG, SATU MASA DEPAN TERSAMBUNG**

Pada kesempatan tersebut, Ustadz Jelita Donal juga memberikan motivasi yang luar biasa kepada keluarga Bu Sri dan seluruh yang hadir.

Sebuah pesan yang patut menjadi renungan kita bersama:

**Kesulitan saudara kita bukan hanya ujian bagi mereka.
Kesulitan mereka juga bisa menjadi peluang amal bagi kita.**

Ketika kita menemukan saudara yang sedang kesulitan, jangan hanya melihat penderitaannya.

Lihatlah **kesempatan untuk berbuat kebaikan.**

Sebab kehidupan ini bukan hanya tentang seberapa banyak yang berhasil kita kumpulkan, tetapi juga tentang **seberapa banyak manfaat yang mampu kita berikan.**

Mari saling menolong.

Mari saling menguatkan.

Mari menjadi sebab hadirnya harapan bagi orang lain.

Karena sebaik-baik manusia adalah mereka yang **paling banyak memberikan manfaat kepada manusia lainnya.**

---

# **KETIKA HARAPAN DILLA KEMBALI MENYALA**

Dan kemudian datanglah sebuah kabar yang mengubah suasana.

**Senator H. Jelita Donal, Lc. melunasi tunggakan UKT Dilla beserta biaya lainnya yang diperlukan untuk menyelesaikan perkuliahannya.**

Satu semester terakhir yang sebelumnya terasa begitu berat, kini memiliki jalan keluar.

**Dilla dapat melanjutkan perjuangannya hingga wisuda.**

Toga yang sempat terasa begitu jauh, kini kembali berada dalam jangkauan.

Tetapi perjuangan belum berhenti di sana.

**Bundo Kanduang Tazkiyah** juga memberikan bantuan kepada adik Dilla yang akan melanjutkan pendidikan dan berangkat **study ke luar kota**, sebuah perjalanan pendidikan yang tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Hari itu bukan sekadar tentang bantuan uang.

Bukan sekadar tentang melunasi tunggakan.

Bukan sekadar tentang sebuah keluarga yang menerima bantuan.

**Hari itu adalah tentang sebuah harapan yang diselamatkan.**

---

# **DARI PEMULUNG, UNTUK MASA DEPAN**

Mungkin hari ini ayah dan ibu Dilla masih menyusuri jalan, mengumpulkan barang-barang yang bisa dijual kembali.

Mungkin tangan mereka tidak menggenggam banyak harta.

Tetapi mereka sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih besar:

**Mereka sedang mengumpulkan masa depan anak-anaknya.**

Setiap langkah mereka adalah pengorbanan.

Setiap tetes keringat mereka adalah doa.

Setiap rupiah yang mereka sisihkan untuk pendidikan adalah investasi untuk masa depan keluarga.

Dan mungkin kita tidak pernah tahu...

**Dari rumah sederhana itu, kelak bisa lahir seorang sarjana.
Seorang guru.
Seorang pemimpin.
Seorang ulama.
Seorang profesional.
Atau seseorang yang suatu hari nanti justru menjadi penolong bagi banyak orang.**

Karena masa depan tidak selalu lahir dari rumah yang mewah.

Kadang masa depan lahir dari **rumah sederhana yang dipenuhi doa.**

Ia tumbuh dari keringat orang tua.

Dikuatkan oleh kesabaran.

Diperjuangkan dengan pengorbanan.

Dan disempurnakan dengan pertolongan Allah.

---

## **SEBUAH PESAN UNTUK KITA SEMUA**

Kisah Bu Sri mengajarkan kepada kita bahwa **kemiskinan tidak boleh diwariskan menjadi kemiskinan cita-cita.**

Keterbatasan ekonomi tidak boleh menjadi alasan untuk mematikan mimpi anak-anak.

Dan ketika kita memiliki kemampuan untuk membantu, jangan menunggu sampai seseorang benar-benar kehilangan harapan.

**Ulurkan tangan sebelum mereka menyerah.
Berikan dukungan sebelum langkah mereka terhenti.
Nyalakan cahaya sebelum mereka kehilangan arah.**

Sebab boleh jadi, bantuan kecil yang kita berikan hari ini adalah awal dari perubahan besar dalam kehidupan seseorang.

**Dilla mungkin hanya membutuhkan bantuan untuk menyelesaikan satu semester.**

Tetapi sesungguhnya, yang sedang kita selamatkan adalah:

**sebuah cita-cita,
sebuah keluarga,
sebuah masa depan,
dan mungkin sebuah peradaban.**

---

### **Rabu, 26 Agustus 2026 — Korong Gadang, Kuranji, Kota Padang.**

Hari itu, sebuah rumah sederhana menjadi saksi.

Saksi bahwa masih ada kepedulian.

Saksi bahwa masih ada orang yang mau pulang dan melihat langsung penderitaan saudaranya.

Saksi bahwa masih ada tangan-tangan yang rela berbagi.

Dan saksi bahwa **pendidikan mampu menjadi jalan perubahan.**

**Hari ini mereka berjuang.
Esok mereka mungkin berjaya.**

**Hari ini orang tua mengumpulkan rupiah demi pendidikan.
Esok anak-anaknya mungkin mengangkat martabat keluarga.**

**Hari ini kita membantu satu keluarga.
Boleh jadi, Allah sedang mengizinkan kita mengambil bagian dalam lahirnya masa depan.**

### **“Jangan pernah malu dengan perjuangan.

Yang harus kita takutkan bukan hidup sederhana,
tetapi kehilangan semangat untuk memperbaiki masa depan.”**

**Semoga Allah membalas setiap kebaikan dengan keberkahan, memudahkan perjalanan pendidikan Dilla dan adik-adiknya, menguatkan Bu Sri dan suaminya, serta menjadikan seluruh bantuan ini sebagai amal jariyah yang terus mengalir.**

**Karena sesungguhnya, ketika kita membantu seseorang berdiri, kita tidak pernah tahu—berapa banyak orang yang kelak akan ia bantu berdiri.**
×
Berita Terbaru Update