padanginfo.com – PADANG-
Sukses menggelar Festival Padang Harmoni bulan Agustus 2026 lalu, Kota Padang mendapat tawaran menjadi tuan rumah pertemuan Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) tingkat nasional. Tawaran tersebut sebagai apresiasi dari Kementerian Dalam Negeri, setelah pengurus FPK Kota Padang bersama kepala Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Padang beraudiensi ke Kementerian Dalam Negeri.
FPK Kota Padang harus menjadi jembatan persaudaraan, bukan sekadar forum pertemuan.
Pancasila adalah dasar negara, ideologi bangsa, sekaligus titik temu bagi masyarakat Indonesia yang berbeda suku, agama, budaya, bahasa, dan latar velakang sosial. Namun, tantangan terbesar bangsa ini bukan sekadar bagaimana Pancasila diajarkan, dihafalkan, atau dikutip dalam pidato. Tantangan sesunggunya ialah bagaimana nilai-nilai itu hidup dalam perilaku sehari-hari, terutama ketika perbedaan kepentingan, identitas, dan pandangan berpotensi memicu perselisihan.
Demikian poin-poin penting yang mencuat dalam Diskusi Terpumpun (Focus Group Discussion) yang digelar Forum Pembauran Kebangsaan Kota Padang, di Kupi Batigo Padang, Rabu (14/11/2026).
Diskusi Terpumpun menampilkan narasumber Irwan Basyir Datuk Rajo Alam, tokoh Zaitul Ikhlas, Ketua Lembaga Kerapatam Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Provinsi Sumatera Barat Fauzi Bahar. Tampak hadir Kepala Kantor Sospol Kota Padang Syahendri Barkah dan wakil Kakansospol Kota Padang Amrizal Rengganis dan Ketua FPK Kota Padang Suardi Z Datuk Garang, serta pengurus FPK Kota Padang .
Zaitul Ikhlas mengatakan, Pancasila harus menjadi pedoman hidup kita. KPK harus mampu membangun komunikasi antaretnis. Keberagaman adalah kekuatan kita.
“Pancasila harus terasa dalam cara pemerintah melayani masyarakat, cara tokoh masyarakat dalam menyelesaikan perselisihan, cara pemuka agama membangun dialog, dan cara warga memperlakukan tetangganya yang berbeda latar belakang, tandasnya.
Menurut dia, jangan sampai Pancasila terdengar lantang dalam pidato, tetapi melemah ketika berhadapan dengan prasangka, diskriminasi, atau kepentingan kelompok.
Sebagai ibu Kota provinsi Sumatera Barat, Padang memiliki peran penting dalam membangun kehidupan masyarakat yang harmonis. Kota ini menjadi ruang perjumpaan berbagai latay belakang etnis,tradisi, keyakinan, profesi, dan kepentingan . Keberagaman tersebut merupakan modal sosial yang berharga, bukan ancaman yang harus dicurigai.
Irwan Basyir mengatakan, Tungku Tigo Sajarangan harus wujudkan Padang harmoni, sehingga kehidupan berbangsa dan bernegara berjalan dengan baik. Berbeda bukan sesuatu yang negatif, tapi positif.
Dalam konteks Minangkabau , falsafah alam takambang jadi guru mengajarkan pentingnya belajar dari kehidupan. Nilai musyawarah,penghormatan terhadap sesama. Dam kebersamaan juga dapat menjadi jembatan untuk memperkuat pembauran kebangsaan.
“Kearifan lokal tidak bertentangan dengan identitas nasional. Sebaliknya, ketika ditempatkan dalam semangat kebangsaan, keduanya dapat saling memperkaya,” katanya. “Namun, modal budaya saja tidak otomatis menjamin keharmonisan. Perbedaan dapat berubah menjadi sekat, ketika komunikasi terputus, prasangka dibiarkan tumbuh, atau identitas suku dan agama digunakan untuk membangun jarak sosial.”
Karena itu, pembauran harus dimulai dari kehidupan nyata. Warga perlu memiliki ruang untuk saling mengenal, bekerja bersama, bertukar pikiran, dan menyelesaikan persoalan tanpa harus terlebih dahulu mempertanyakan asal usul atau identitas satu sama lain.
Di tengah perkembangan media sosial, tantangannya semakin kompleks. Informasi yang belum terverifikasi, ujaran kebencian, provokasi, dan narasi yang mempertentangan kelompok masyarakat, dapat menyebar dengan cepat. Perselisihan kecil pun berpotensi membesar ketika dibingkai sebagai konflik identitas.
“FPK tidak boleh menutup mata terhadap perubahan ini. Pembauran kebangsaan harus hadir di ruang digital sekaligus ruang sosial, dengan mengedepankan literasi, dialog dan kemampuan masyarakat memilah informasi,” papar Zaitul Ikhlas.
Bantuan Kemanusiaan
Di hadapan peserta diskusi, mantan wali kota Padang yang kini menjadi Ketua LKAAM Sumatera Barat, menceritakan pengalaman saat mengantarkan bantuan dari Gebu Minang Sumatera Barat untuk korban terdampak gempa NTT.
“Masyarakat Nusa Tenggara Timur, kala itu menyatakan keheranan dan sekaligus sangat berterimakasih, kenapa masyarakat Minangkabau yang Islam mau membantu 5,3 ton rendang untuk warga NTT terdampak gempa,” katanya.
Menurut Fauzi Bahar marilah kita saling menghormati. Yang dibutuhkan bukan sekadar ajakan untuk hidup rukun, melainkan kerja nyata yang membuat masyarakat merasakan manfaat persatuan.
Padang harus menjadi kota tempat perbedaan tidak menghalangi kerjasama, identitas tidak menjadi alasan untuk saling mencurigai, dan musyawarah menjadi jalan untuk mnyelesaikan persoalan.
Kekuatan sebuah kota tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik, pertumbuhan ekonomi atau kemegahan fasilitasnya, tetapi juga oleh kualitas hubungan antarmanusia yang hidup di dalamnya.
Menurut Fauzi Bahar Pancasila harus menjadi pedoman bertindak. Pembauran harus menjadi keiasaan.Harmoni harus menjadi kenyataan yang dirasakan setiap warga. Sebab, persatuan tidak cukup diumumkan. Persatuan harus dirawat, dibuktikan, dan siperjuangkan setiap hari.
“Pembauran bukan berarti menghapus perbedaan, melainkan membangun kesediaan untuk hidup bersama, saling menghormati, dan bekerjasama sebagai sesama bangsa. Pancasila harus menjadi pedoman tindakan, sedangkan Forum Pembauran Kebangsaan menjadi ruang dialog dan jembatan antarkelompok masyarakat,” jelas Fauzi Bahar.
Anggaran untuk FPK agar Ditambah
Dengan anggaran yang terbatas sudah banyak hasil kerja Forum Pembauran Kebangsaan Kota Padang. Namun demikian, pembagan besaran anggaran dari tahun ke tahun perlu ditingkatkan, agar FPK bisa membuat banyak kegiatan, guna lebih mengokohkan persatuan dan kesatuan, serta hamonisasi di kalangan etnis yang ada di Kota Padang.
“Kita setiap tahun akan menggelar Festival Padang Harmoni. Kalau anggaran dinaikkan, ragam kegiatan dan etnis yang terlibat bisa lebih banyak,” kata Ketua FPK Kota Padang, Suardi Datuk Garang. (yurnaldi)