Oleh Riri Satria
(Penyair dan Akademisi)
padanginfo.com-SAYA pernah duduk sendirian di depan layar komputer, mengetik kata “puitis” di mesin pencari serta aplikasi AI, seolah-olah makna bisa ditemukan seperti alamat yang pasti, lengkap dengan koordinatnya. Lalu muncullah definisi-definisi itu, rapi, tertib, seakan sudah selesai menjelaskan segalanya. Benarkah demikian?
Apa yang saya peroleh? Puitis adalah pilihan kata yang estetik, bernada, serta bermakna dalam. Puitis adalah irama, adalah kiasan, adalah getaran yang dalam. Saya membacanya, mengangguk pelan, tetapi di dalam dada terasa ada sesuatu yang belum selesai. Seolah-olah definisi itu hanya pintu, bukan rumah.
Barangkali sejak awal, banyak kita yang keliru. Kita mengira puisi itu bentuk, padahal ia adalah cara bernapas. Ia bukan sekadar susunan baris yang dipatah-patahkan, bukan hanya rima yang dijaga seperti janji, melainkan sesuatu yang lebih cair, lebih sulit ditangkap. Ia seperti angin yang lewat di sela-sela kalimat, yang tidak terlihat tetapi membuat daun-daun makna bergetar.
Kamus seperti KBBI memberi kita batasan, tetapi hidup sering kali melampaui kamus. Ketika dikatakan bahwa puisi adalah bahasa yang dipilih dan ditata secara cermat untuk mempertajam kesadaran, saya mulai mengerti bahwa yang sedang dibicarakan bukan sekadar kata, melainkan kesadaran itu sendiri. Kata hanyalah perantara.
Nah, yang puitis sesungguhnya adalah cara kita memandang, cara kita merasakan, cara kita membiarkan sesuatu menyentuh kita lebih lama daripada yang diperlukan.
Di titik itu, saya mulai ragu pada anggapan bahwa puisi hanya milik orang-orang tertentu. Memang benar, tidak semua orang mampu menulis puisi. Tetapi bukankah setiap orang pernah merasakan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan bahasa biasa?
Bukankah setiap orang, setidaknya sekali dalam hidupnya, pernah terdiam lebih lama karena sebuah senja, atau kehilangan, atau kenangan yang tiba-tiba datang tanpa diundang? Mungkin di situlah puisi lahir, bahkan sebelum ia sempat dituliskan.
Saya teringat pada gagasan lama oleh Aristoteles tentang puitis sebagai mimesis, sebagai peniruan kehidupan. Tetapi peniruan di sini bukanlah cermin datar yang memantulkan apa adanya. Ia seperti air yang memantulkan langit dengan sedikit riak, membuat yang nyata menjadi lebih dalam, lebih mungkin, bahkan kadang lebih jujur daripada kenyataan itu sendiri.
Sesuatu yang puitis tidak hanya berkata, “inilah yang terjadi,” tetapi berbisik, “inilah yang mungkin terjadi di dalam dirimu.”
Di sanalah perbedaannya dengan tulisan ilmiah. Tulisan ilmiah mengajak kita berpikir, menyusun argumen, mengukur, membuktikan. Ia seperti cahaya terang yang menyingkap segala sesuatu dengan tegas.
Tetapi yang puitis adalah cahaya remang, yang tidak menjelaskan segalanya, justru agar kita ikut merasakan. Ia tidak menuntut kita untuk setuju, melainkan untuk tersentuh. Ia tidak memaksa kita memahami, melainkan mengizinkan kita mengalami.
Di tengah semua itu, saya mulai menyadari sesuatu yang sering kita anggap sepele, yaitu jangan pernah meremehkan kekuatan kata-kata yang puitis. Ia mungkin tampak lembut, bahkan nyaris tak berdaya di permukaan, tetapi justru di sanalah letak kekuatannya.
Kata-kata yang puitis dapat membangkitkan semangat yang hampir padam, seperti bara kecil yang tiba-tiba menyala kembali ketika disentuh angin. Ia mampu menggugah seseorang dari kelelahan batin yang panjang, memanggilnya pulang ke dalam dirinya sendiri.
Kata-kata itu juga bisa membuat seseorang terdiam, bukan karena tidak mengerti, tetapi karena terlalu mengerti. Ia bisa menggetarkan emosi yang lama terkunci, membuka pintu yang selama ini kita tutup rapat-rapat. Ia bisa membuat seseorang menangis tanpa tahu persis alasannya, atau tersenyum dalam diam karena merasa akhirnya dimengerti.
Ada daya yang tidak terlihat, tetapi nyata bekerja dengan daya yang tidak memaksa, namun mengubah.
Lebih jauh lagi, saya percaya bahwa melalui pemilihan kata-kata, melalui diksi yang tepat dan nyaris presisi seperti denyut nadi, seorang penyair bisa mengguncang dunia hanya dengan tulisan yang puitik. Tidak dengan senjata, tidak dengan kekuasaan, tetapi dengan kalimat-kalimat yang tampak sederhana namun menyimpan daya ledak yang dahsyat.
Demikian dahsyatnya sebuah puisi, ia bekerja perlahan, merembes ke dalam kesadaran manusia, lalu diam-diam menggeser cara kita melihat dunia. Kadang tanpa kita sadari, sebuah larik mampu mengubah keputusan hidup seseorang, menguatkan yang rapuh, atau bahkan menyalakan keberanian yang lama tertidur.
Kadang saya merasa, yang puitis itu justru lahir dari ketidaklengkapan, dari sesuatu yang tidak selesai diucapkan, dari jeda di antara kata-kata, dari ruang kosong yang dibiarkan menganga, agar pembaca masuk dan membawa dirinya sendiri ke dalamnya.
Sebab pada akhirnya, puisi bukan hanya milik penulisnya. Ia menjadi milik siapa pun yang membaca dan menemukan dirinya di sana.
Mungkin di situlah daya gugah itu bekerja. Bukan sekadar menggugah pikiran, tetapi mengguncang sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang sering kita sembunyikan bahkan dari diri kita sendiri. Ia seperti mengetuk pelan di dalam dada, mengingatkan bahwa kita masih bisa merasa, masih bisa terharu, masih bisa terluka, dan karena itu, masih hidup.
Saya kemudian menyadari, menjadi puitis bukanlah soal menjadi indah semata. Ia adalah soal menjadi jujur dengan keheingan diri. Ia adalah keberanian untuk tidak selalu menjelaskan, untuk membiarkan makna tumbuh perlahan seperti benih yang ditanam di tanah sunyi. Ia adalah kesediaan untuk tidak selalu pasti, untuk tinggal lebih lama di wilayah kemungkinan.
Di antara kata dan keheningan, di antara makna yang diucapkan dan yang disembunyikan, kita belajar bahwa puitis bukan sekadar gaya bahasa. Ia adalah kontemplasi atau cara manusia menyentuh dunia tanpa merusaknya, cara kita memahami tanpa harus memiliki, cara kita merasakan tanpa harus menamai semuanya.
Diam-diam setiap kita sedang belajar menjadi puitis, bukan dengan menulis puisi, tetapi dengan hidup sedikit lebih dalam dari biasanya.
Namun di antara semua kemungkinan itu, muncul sebuah kegelisahan yang diam-diam mengendap. Jjangan-jangan dari sekian banyak manusia yang menulis puisi, tidak semuanya benar-benar menjadi puitis. Sebab menulis puisi dan menjadi puitis ternyata bukan hal yang sama. Menulis puisi adalah tindakan, di mana ia bisa dipelajari, dilatih, ditiru. Tetapi menjadi puitis adalah pilihan cara memandang kehidupan yang tumbuh dari kedalaman rasa, dari kepekaan yang tidak bisa dipaksakan.
Seseorang bisa menulis bait demi bait yang rapi, penuh metafora, tetapi tetap terasa kosong, seperti rumah yang indah namun tidak pernah benar-benar dihuni. Sementara yang lain mungkin tidak pernah menulis satu pun tulisan benama puisi, tetapi cara ia menatap hujan, cara ia merasakan kehilangan, semuanya sudah puitis tanpa perlu dituliskan.
Dan di titik yang lain, saya mulai melihat bahwa manusia sebenarnya memiliki banyak cara untuk menyampaikan dunia kepada sesamanya. Dengan sains atau ilmu pengetahuan, kita berusaha mengungkapkan sesuatu dengan presisi, dengan ketepatan yang hampir tidak memberi ruang bagi keraguan. Kita mengukur, menghitung, memverifikasi, agar apa yang kita katakan berdiri kokoh seperti bangunan yang tidak mudah runtuh.
Dengan retorika, kita merangkai kata agar menjadi jembatan yang mudah dilalui, agar pesan sampai dengan jelas, efektif, dan dapat dipahami tanpa tersesat.
Namun dengan yang puitis, kita melakukan sesuatu yang berbeda. Kita tidak hanya ingin dipahami, kita ingin dirasakan. Kita tidak hanya ingin menjelaskan, kita ingin menggugah. Di situlah puitis memiliki daya gedor yang hening namun dalam, daya gugah yang tidak selalu tampak, tetapi mampu mengendap lama di dalam batin seseorang. Ia tidak memaksa kesimpulan, tetapi menyalakan makna di dalam diri pembacanya.
Barangkali di situlah letak perbedaannya, yang satu berangkat dari kata menuju rasa, yang lain berangkat dari rasa menuju kata, atau bahkan tidak membutuhkan kata sama sekali.
Menjadi puitis adalah keberanian untuk merasakan dunia lebih dalam dari permukaannya, untuk tidak tergesa-gesa menamai segala sesuatu, untuk memberi ruang bagi makna agar tumbuh dengan caranya sendiri. (***)