Notification

×

Iklan

Iklan

Ike Revita Dikukuhkan sebagai Guru Besar, Soroti Tantangan Komunikasi di Era Digital

Sabtu, 27 Juni 2026 | 6/27/2026 WIB Last Updated 2026-06-27T13:45:57Z




padanginfo.com-PADANG-Perubahan cara masyarakat berkomunikasi di era digital menjadi perhatian Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, Ike Revita. Dalam pidato pengukuhannya sebagai profesor bidang ilmu pragmatik, Sabtu (27/6/2026), dia menegaskan bahwa kemajuan teknologi harus diimbangi dengan kemampuan berkomunikasi secara santun, beretika, dan bertanggung jawab.

Melalui orasi ilmiah bertajuk Dari Tradisi Lisan ke Era Digital: Transformasi Kesantunan Berbahasa dari Perspektif Pragmatik, Ike mengajak dunia pendidikan dan masyarakat untuk melihat bahasa bukan sekadar alat menyampaikan pesan, tetapi juga sarana membangun karakter, hubungan sosial, dan peradaban.

Ike Revita mengatakan bahwa pengukuhan sebagai profesor bukan hanya menjadi pencapaian akademik pribadi. Bagi dia, amanah sebagai guru besar merupakan tanggung jawab yang lebih besar untuk terus mengembangkan ilmu pengetahuan, khususnya di bidang pragmatik dan kajian bahasa.

Dikatakannya, perjalanan menuju jabatan akademik tertinggi tersebut tidak terlepas dari dukungan keluarga, guru, kolega, mahasiswa, dan institusi tempatnya mengabdi. Karena itu, pengukuhan profesor menjadi momentum untuk memperkuat pengabdian kepada masyarakat melalui pendidikan, penelitian, dan pengembangan ilmu pengetahuan.

Lebih jauh, dia menilai bahwa seorang profesor tidak cukup hanya menghasilkan penelitian dan mengajar di ruang kuliah. Akademisi, katanya, juga harus mampu menghadirkan gagasan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, menjembatani ilmu pengetahuan dengan persoalan nyata, sekaligus berkontribusi dalam pembentukan karakter bangsa.

Tema orasi yang diangkat, lanjut Ike, lahir dari kegelisahannya melihat perubahan pola komunikasi masyarakat. Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara manusia berinteraksi dari komunikasi lisan menjadi komunikasi melalui berbagai platform digital yang berlangsung sangat cepat.

Perubahan itu, menurut dia, menghadirkan tantangan baru. Kemudahan menyampaikan pendapat di ruang digital sering kali tidak diikuti kemampuan memahami konteks, etika, maupun dampak dari sebuah ujaran.

Karena itu, dia menegaskan bahwa pendidikan bahasa tidak lagi cukup hanya mengajarkan tata bahasa dan kemampuan berkomunikasi. Literasi digital serta kesadaran pragmatik perlu menjadi bagian penting dalam proses pendidikan agar masyarakat mampu menggunakan bahasa secara bijaksana.

Ike juga melihat perkembangan media sosial, kecerdasan buatan, komunikasi lintas budaya, hingga perubahan norma kesantunan di ruang digital sebagai ruang penelitian yang terus berkembang.

Dia meyakini bahwa kajian pragmatik akan memiliki peran yang semakin penting pada masa mendatang. Melalui disiplin ilmu tersebut, hubungan antara bahasa, konteks, dan perilaku sosial dapat dipahami secara lebih utuh sehingga mampu membantu masyarakat membangun komunikasi yang efektif tanpa meninggalkan nilai empati dan penghormatan terhadap orang lain.

Setelah dikukuhkan sebagai guru besar, Ike mengaku ingin mendorong penguatan budaya akademik yang lebih produktif di Universitas Andalas. Fokusnya tidak hanya pada peningkatan kualitas riset, tetapi juga memastikan hasil penelitian memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Dia berharap kolaborasi antara dosen, mahasiswa, serta mitra nasional maupun internasional terus diperkuat sehingga lahir berbagai inovasi di bidang bahasa, budaya, komunikasi digital, dan literasi.

Selain itu, dia ingin mendorong terbentuknya pusat-pusat kajian yang mampu merespons perkembangan zaman, terutama berkaitan dengan etika komunikasi dan literasi digital yang kini menjadi kebutuhan masyarakat.

Dalam pandangannya, pragmatik merupakan bidang ilmu yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari karena hampir seluruh aktivitas manusia bertumpu pada komunikasi. Mulai dari pendidikan, pemerintahan, pelayanan publik hingga dunia usaha, seluruhnya membutuhkan kemampuan berbahasa yang baik sekaligus memahami konteks sosial.

Dia menambahkan bahwa Sumatera Barat memiliki kekayaan budaya yang tercermin dalam praktik berbahasa masyarakatnya. Karena itu, kajian pragmatik juga dapat berkontribusi mendokumentasikan, melestarikan, sekaligus mengembangkan nilai-nilai budaya tersebut agar tetap relevan di tengah perubahan zaman.

Bagi Ike, pembangunan tidak hanya ditentukan oleh kemajuan infrastruktur dan teknologi. Kualitas komunikasi masyarakat juga menjadi fondasi penting dalam membangun kehidupan yang harmonis, inklusif, dan berbudaya.

Menutup orasinya, Ike memberikan pesan kepada mahasiswa dan dosen muda agar tidak pernah berhenti belajar dan berkarya.

“Jangan takut bermimpi besar dan jangan lelah belajar. Dunia akademik adalah tentang proses panjang untuk terus bertumbuh, menjaga integritas, dan menghadirkan ilmu yang bermanfaat bagi sesama. Gelar dan jabatan adalah konsekuensi dari dedikasi, bukan tujuan akhir,” ujarnya.
×
Berita Terbaru Update