Notification

×

Iklan

Iklan

Ketika Huruf Kembali Menjadi Seni

Kamis, 03 September 2026 | 9/03/2026 WIB Last Updated 2026-09-03T03:00:04Z

Oleh Yurnaldi, wartawan utama, kaligrafer, dan sastrawan

padanginfo.com-Ada sesuatu yang menarik dari Gontor memasuki usia satu abad. Di tengah berbagai agenda besar memperingati perjalanan panjang Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, Jawa Timur, ada satu kegiatan yang mungkin tidak seramai reuni, seminar, tabligh akbar, atau forum ekonomi. Namun justru di situlah tersimpan sesuatu yang sangat penting bagi kebudayaan Islam Indonesia: kkaligrafi
Pada 8–10 September 2026, Gontor akan menggelar Festival Kaligrafi Internasional. Agenda ini mencakup lomba kaligrafi regional, pameran kaligrafi, serta workshop dan sharing session. Tema yang diusung pun sangat kuat: “Menulis Peradaban, Merawat Warisan Menuju Abad Kedua Gontor.” 

Tema itu seolah mengingatkan kita: sebuah peradaban tidak hanya dibangun dengan gedung, jalan, teknologi dan ekonomi. Ia juga dibangun oleh kata-kata yang ditulis, gagasan yang diwariskan, dan keindahan yang dirawat. Dan kaligrafi berada tepat di persimpangan ketiganya.
Kita pernah memiliki Festival Istiqlal
Indonesia sebenarnya tidak asing dengan peristiwa kebudayaan Islam berskala besar.
Pada 1991, Jakarta pernah menjadi tuan rumah Festival Istiqlal I. Festival yang berlangsung sekitar sebulan itu bukan sekadar pameran keagamaan. Ia mempertemukan seni rupa, arsitektur, mushaf Al-Qur'an, manuskrip, buku, seni pertunjukan, forum ilmiah, hingga kaligrafi. 

Ensiklopedia Islam +1

Dalam konteks seni lukis kaligrafi, Festival Istiqlal bahkan menjadi salah satu tonggak penting.
Sekitar 250 karya lukisan kaligrafi dari sekitar 70 pelukis dipamerkan pada Festival Istiqlal I. Pada Festival Istiqlal II tahun 1995, jumlahnya meningkat menjadi sekitar 300 karya dari sekitar 90 pelukis.

Kaligrafi tidak lagi hanya hadir sebagai tulisan indah, tetapi bersentuhan dengan lukisan, batik, patung, dan berbagai ekspresi seni rupa. 

Itulah salah satu masa ketika kaligrafi memperoleh ruang yang layak dalam percakapan seni rupa Indonesia.

Nama-nama besar seni rupa Indonesia ikut memberi warna. Kaligrafi bertemu dengan abstraksi, simbol, tekstur, komposisi, dan pencarian artistik.

Huruf Arab tidak lagi sekadar dibaca. Ia dilihat, dirasakan, direnungkan. Sayangnya, tradisi itu tidak berkelanjutan. Di sinilah persoalannya.

Mengapa pameran kaligrafi berskala besar begitu jarang kita jumpai sekarang? MTQ masih berlangsung. Lomba khat masih ada. Pesantren mengajarkan kaligrafi. Anak-anak belajar menulis huruf Arab dengan indah. Tetapi kaligrafi sebagai karya seni yang dipamerkan, dikurasi, dikritik, didokumentasikan dan diperbincangkan dalam ruang kebudayaan yang lebih luas masih sangat terbatas.

Akibatnya, kaligrafi sering terjebak dalam dua ruang. Pertama, sebagai keterampilan lomba.
Kedua, sebagai dekorasi. Padahal kaligrafi bisa jauh lebih luas daripada itu.

Ia bisa menjadi seni rupa. Ia bisa menjadi medium kontemplasi. Ia bisa menjadi identitas kebudayaan. Ia bisa menjadi jembatan antara tradisi dan modernitas.

Bahkan dalam sejarah seni rupa Indonesia, perjumpaan antara kaligrafi dan seni modern pernah menghasilkan karya-karya penting.
Karena itu, ketika Gontor membuka kembali ruang pameran kaligrafi, kita patut melihatnya bukan sebagai agenda seremonial 100 tahun Gontor.
Ini adalah kesempatan untuk menghidupkan kembali sebuah tradisi yang pernah besar.

Dua karya Hendra Buana dan sebuah perjalanan panjang

Menarik pula bahwa dalam festival tersebut akan hadir perupa asal Sumatera Barat, Hendra Buana, dengan dua karya terbaiknya. Ini bukan kehadiran seorang seniman secara tiba-tiba.

Hendra Buana—lahir di Koto Tangah Hilir, Bukittinggi, 8 Oktober 1963—menempuh pendidikan seni lukis di STSRI “ASRI” Yogyakarta, kini ISI Yogyakarta. Perjalanan keseniannya panjang. Ia pernah mengikuti kegiatan seni di Brunei Darussalam dan tercatat sebagai peserta pameran Istiqlal Antarnegara di Jakarta pada 1991. 

Dalam perkembangan artistiknya, Hendra juga menekuni lukisan kaligrafi. Ia tidak berhenti pada persoalan bagaimana menulis huruf Arab dengan benar dan indah, tetapi menjadikan huruf sebagai bagian dari bahasa rupa.

Di situlah menariknya seorang pelukis kaligrafi.
Ia tidak sekadar bertanya:
“Bagaimana huruf ini ditulis?”
Tetapi juga:
“Apa yang dapat dikatakan huruf ini kepada manusia?”

Pertanyaan kedua itulah yang membawa kaligrafi dari meja belajar menuju ruang seni.
Kaligrafi adalah seni melihat yang tak terlihat
Ada paradoks yang indah dalam kaligrafi.
Huruf adalah sesuatu yang konkret.
Namun pesan yang dikandungnya bisa bersifat metafisik. Garis bisa menjadi kata. Kata bisa menjadi ayat. Ayat bisa menjadi renungan.
Dan renungan bisa membawa manusia kepada sesuatu yang tidak kasatmata.

Karena itu, kaligrafi sesungguhnya bukan hanya perkara tangan yang terampil.
Ia membutuhkan mata yang peka, pikiran yang terlatih, rasa yang halus, dan batin yang memiliki hubungan dengan teks yang ditulis.

Di sinilah kaligrafi berbeda dari sekadar tipografi.
Kaligrafi memiliki sejarah, kaidah, disiplin, spiritualitas sekaligus kebebasan artistik.
Maka ketika seorang seniman melakukan eksplorasi terhadap huruf, ia sesungguhnya sedang berdialog dengan tradisi yang sangat panjang.

Gontor dan tugas merawat warisan

Festival Kaligrafi Internasional Gontor menjadi semakin menarik karena diselenggarakan dalam momentum 100 tahun Gontor.

Gontor sendiri sedang menempatkan warisan sebagai salah satu tema penting perjalanan menuju abad kedua. Bahkan Gontor telah menyiapkan Mushaf Gontor, yang penulisannya berlangsung sejak 2023 dan telah selesai pada 2025, dengan karakteristik rasm Utsmani, ornamen yang mengambil unsur arsitektur pesantren serta flora khas Ponorogo. Mushaf tersebut telah melalui proses pentashihan di Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an. 

Maka festival kaligrafi menjadi bagian yang sangat logis dari perjalanan itu. Menulis mushaf adalah merawat teks. Memamerkan kaligrafi adalah merawat ekspresi artistik. Mengajarkan kaligrafi adalah merawat keterampilan. Mendiskusikannya adalah merawat pemikiran. Keempatnya diperlukan agar sebuah warisan tidak menjadi benda mati.

Jangan biarkan kaligrafi berhenti di lomba
Karena itu, Festival Kaligrafi Gontor sebaiknya tidak berhenti pada tiga hari acara.
Jangan sampai setelah 10 September 2026, karya-karya kembali masuk peti, galeri ditutup, dan kaligrafi kembali menjadi urusan lomba di berbagai kegiatan keagamaan.

Justru festival ini dapat menjadi titik awal kebangkitan kembali ekosistem kaligrafi Indonesia.
Mengapa tidak kemudian lahir pameran kaligrafi tahunan?

Mengapa tidak ada biennale kaligrafi Indonesia?
Mengapa tidak dibangun museum atau pusat dokumentasi kaligrafi? Mengapa tidak ada katalog nasional yang mendokumentasikan perjalanan para kaligrafer Indonesia? Mengapa kampus seni tidak lebih serius mengkaji hubungan kaligrafi dengan seni rupa kontemporer?

Dan mengapa perusahaan, lembaga kebudayaan, pemerintah daerah, pesantren serta perguruan tinggi tidak menjadi patron bagi seniman-seniman kaligrafi?

Pertanyaan-pertanyaan itu penting karena seni tidak akan tumbuh hanya dengan bakat seniman. Seni membutuhkan ekosistem.

Dari Istiqlal ke Gontor

Ada kesinambungan simbolik yang menarik.
Dulu Jakarta memiliki Festival Istiqlal.
Kini Gontor membuka ruang besar bagi kaligrafi dalam momentum satu abadnya.

Dari Masjid Istiqlal ke Gontor, dari generasi A.D. Pirous, Ahmad Sadali, Amri Yahya, Amang Rahman dan Syaiful Adnan hingga generasi berikutnya, termasuk Hendra Buana, sebenarnya terdapat satu benang merah: usaha menjadikan seni Islam sebagai bagian dari kebudayaan Indonesia, bukan sesuatu yang ditempatkan di pinggir.

Festival Istiqlal pernah menunjukkan bahwa seni Islam dapat berdialog dengan seni modern dan kebudayaan dunia. Gontor kini mempunyai kesempatan meneruskan percakapan itu.

Bahkan lebih jauh: membuka dialog antara kaligrafi klasik dan seni kontemporer; antara pesantren dan galeri; antara tradisi dan teknologi; antara teks dan visual; antara Indonesia dan dunia.

Sebab kaligrafi tidak mengenal batas geografis.
Hurufnya berasal dari tradisi yang panjang, tetapi tangan yang mengolahnya bisa berasal dari Minangkabau, Jawa, Sulawesi, Kalimantan, Aceh, Papua, bahkan dari berbagai negara.
Dan ketika dipamerkan bersama, ia menjadi bahasa kebudayaan yang melampaui batas.

Huruf jangan sampai kehilangan rumah

Pada akhirnya, persoalan kaligrafi bukan semata-mata bagaimana kita mempertahankan bentuk huruf. Persoalannya adalah apakah kita masih menyediakan ruang bagi keindahan, perenungan dan tradisi intelektual dalam kebudayaan kita.

Di tengah dunia yang semakin cepat, layar yang semakin kecil, dan komunikasi yang semakin pendek, kaligrafi justru mengajarkan sesuatu yang berlawanan: kesabaran.

Satu garis harus ditarik dengan tepat.
Satu huruf harus ditempatkan dengan cermat.
Satu komposisi harus direnungkan.
Ada waktu yang dibutuhkan untuk membuat sesuatu menjadi indah. Barangkali itulah pesan paling dalam dari Festival Kaligrafi 100 Tahun Gontor.

Peradaban tidak hanya ditulis dengan kata-kata besar. Kadang-kadang ia dimulai dari satu huruf yang ditulis dengan kesungguhan.

Dan ketika 8–10 September nanti dua karya Hendra Buana berdiri di ruang pamer Gontor, yang sedang dipamerkan sesungguhnya bukan hanya dua lukisan. 

Yang sedang dipertontonkan adalah kemungkinan: bahwa huruf masih bisa menjadi seni, seni masih bisa menjadi renungan, dan renungan masih bisa menjadi jalan untuk merawat peradaban.
Dari Istiqlal ke Gontor.
Dari masa lalu menuju abad kedua.
Kaligrafi kembali mencari rumahnya.
Dan Indonesia seharusnya menyambutnya.

(Yurnaldi, editorial Kompas desk KOMPAS Minggu dan Desk Humaniora, 1995-2011.banyak menulis pameran dan seni pertunjukkan). (**)

Padang, 2/9/2026.
×
Berita Terbaru Update