padanginfo.com-PADANG- Suasana penuh khidmat dan haru menyelimuti Masjid Al Falah, Kompleks Harka Sari Permai, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, Ahad (18/10/2026), saat Majelis Ta'lim Indonesia (MTI) Kelurahan Padang Sarai menggelar Tabligh Akbar bersama Senator H. Jelita Donal, Lc., yang akrab disapa Buya Jel Fathullah.
Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 10.00 WIB ini menjadi momentum bagi umat Islam untuk memperkuat keimanan, memperdalam ilmu agama, menghidupkan semangat amal berjamaah, serta merenungkan kembali perjalanan hidup di tengah berbagai godaan dunia.
Dalam tausiyahnya, Buya Jel Fathullah mengingatkan bahwa menuntut ilmu bukan sekadar aktivitas untuk menambah pengetahuan, melainkan kebutuhan mendasar setiap Muslim. Sebab, setiap manusia kelak akan mempertanggungjawabkan seluruh amal perbuatannya di hadapan Allah SWT secara pribadi.
“Ilmu adalah kebutuhan setiap insan. Kelak, masing-masing kita akan dihisab atas apa yang telah diperbuat. Karena itu, jangan pernah merasa cukup dengan ilmu yang dimiliki. Teruslah belajar, perbaiki diri, dan persiapkan bekal terbaik untuk kehidupan akhirat,” demikian pesan yang ditekankan dalam tausiyah tersebut.
Ilmu Menguatkan Iman, Berjamaah Melipatgandakan Kebaikan
Buya Jel menjelaskan bahwa ilmu dan iman merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Ilmu membimbing manusia mengenali kebenaran, sementara iman menguatkan hati untuk tetap berada di jalan Allah SWT.
Menurutnya, iman dapat melemah akibat kemaksiatan, sedangkan ibadah menjadi salah satu jalan untuk menguatkannya. Namun, ibadah yang benar dan kokoh harus dibangun di atas ilmu agar setiap amal dilaksanakan sesuai tuntunan agama.
Ia juga mengajak umat untuk tidak menjalani kehidupan beragama secara individualistis. Kebersamaan dalam kebaikan harus terus dirawat melalui majelis ilmu, kegiatan ibadah, dan berbagai amal berjamaah yang membawa manfaat bagi masyarakat.
Dalam pesannya, Buya Jel mengingatkan bahwa setan lebih mudah menggoda manusia yang menyendiri dan terputus dari lingkungan kebaikan. Sebaliknya, kebersamaan dalam ketaatan menjadi salah satu jalan untuk saling menguatkan, saling menasihati, dan menjaga diri agar tidak mudah terjerumus dalam kesesatan.
“Ramaikanlah majelis ilmu dan semarakkanlah amal berjamaah. Jangan biarkan masjid dan majelis taklim kehilangan semangatnya. Di sanalah kita belajar memperbaiki diri, mempererat persaudaraan, dan membangun kekuatan umat,” menjadi pesan penting yang menggema dalam kegiatan tersebut.
Muhasabah Usia: Jangan Tunggu Penyesalan Menjadi Sia-sia
Salah satu bagian paling menyentuh dalam tausiyah Buya Jel adalah ajakan untuk melakukan muhasabah atau introspeksi diri terhadap perjalanan usia dan pemanfaatan nikmat Allah SWT.
Ia mengajak jamaah merenungkan betapa banyak nikmat yang telah diberikan Allah, mulai dari kesehatan, waktu, harta, tenaga, hingga kesempatan hidup. Namun, manusia sering kali belum menggunakan seluruh nikmat tersebut untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada-Nya.
Bahkan, tanpa disadari, sebagian nikmat yang diberikan justru digunakan untuk melakukan kemaksiatan dan mendurhakai Sang Pemberi Nikmat.
Pesan ini menjadi pengingat bahwa usia yang terus berjalan tidak selalu berbanding lurus dengan bertambahnya amal kebaikan. Hari demi hari berlalu, sementara kesempatan untuk memperbaiki diri semakin berkurang.
Buya Jel mengajak jamaah untuk tidak menunda taubat dan perubahan menuju kehidupan yang lebih baik.
“Menyesallah hari ini atas kelalaian dan dosa yang telah dilakukan. Perbaikilah diri selagi kesempatan masih terbuka. Jangan sampai penyesalan baru hadir ketika waktu untuk memperbaiki semuanya telah berakhir.”
Pesan tersebut mengajak setiap jamaah untuk menjadikan sisa usia sebagai kesempatan berharga dalam memperbanyak ibadah, memperbaiki akhlak, menunaikan tanggung jawab, serta meninggalkan jejak kebaikan bagi sesama.
Ia juga menekankan pentingnya *mudhawamah*, yakni konsistensi dan ketekunan dalam menjalankan amal saleh. Menurutnya, perjalanan menuju Allah bukan sekadar tentang semangat sesaat, melainkan kesungguhan untuk terus belajar dan beribadah hingga akhir hayat, dengan senantiasa memohon kepada Allah agar dianugerahi husnul khatimah.
Tabayyun Menjadi Kunci Keselamatan di Tengah Arus Informasi
Selain membahas pembinaan iman dan ibadah, Buya Jel turut menyoroti pentingnya kehati-hatian dalam menerima dan menyebarkan informasi.
Di tengah derasnya arus informasi yang dapat menyebar dengan cepat, umat Islam diingatkan agar tidak mudah mempercayai setiap kabar yang diterima, apalagi langsung menyebarkannya tanpa memastikan kebenarannya.
Ia menegaskan bahwa informasi yang tidak benar bukanlah persoalan baru dalam kehidupan manusia. Karena itu, prinsip *tabayyun* atau memeriksa kebenaran berita harus menjadi pedoman dalam kehidupan bermasyarakat.
Sikap kritis, bijaksana, dan bertanggung jawab dalam menerima informasi merupakan bagian dari akhlak seorang Muslim. Tanpa tabayyun, kabar yang belum tentu benar dapat memicu prasangka, merusak hubungan persaudaraan, bahkan menimbulkan perpecahan di tengah masyarakat.
Karena itu, menjaga lisan, menahan diri dari menyebarkan kabar yang belum terverifikasi, serta mengutamakan klarifikasi menjadi langkah penting dalam merawat kedamaian dan persatuan umat.
Perkuat Ukhuwah, Persatuan, dan Ketahanan Keluarga
Pada bagian lain tausiyahnya, Buya Jel mengajak seluruh jamaah memperkuat ukhuwah Islamiyah, menjaga persatuan, serta membangun keluarga yang kokoh di atas nilai-nilai agama.
Baginya, kekuatan umat tidak hanya ditentukan oleh banyaknya jumlah anggota, tetapi juga oleh kualitas iman, kedalaman ilmu, keluhuran akhlak, dan kemampuan menjaga kebersamaan.
Majelis taklim diharapkan tidak hanya menjadi tempat mendengarkan ceramah, tetapi juga ruang untuk menumbuhkan kepedulian, mempererat hubungan antarsesama, dan menggerakkan amal nyata yang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Semangat persaudaraan tersebut harus dimulai dari keluarga, diperkuat di lingkungan masyarakat, dan dikembangkan melalui kegiatan keagamaan yang berkelanjutan.
Dengan demikian, majelis ilmu tidak berhenti pada nasihat yang didengar, tetapi menjelma menjadi perubahan perilaku, penguatan keluarga, kepedulian sosial, dan tumbuhnya masyarakat yang lebih religius serta harmonis.
Santunan Anak Yatim dan Dukungan bagi Kegiatan Keagamaan
Tabligh Akbar MTI Kelurahan Padang Sarai ini turut dihadiri oleh pengurus MTI tingkat kelurahan dan kecamatan, para ketua RT dan RW, serta tokoh masyarakat setempat.
Kehadiran berbagai unsur masyarakat tersebut mencerminkan pentingnya sinergi antara majelis taklim, pengurus lingkungan, tokoh masyarakat, dan berbagai elemen umat dalam membangun kehidupan keagamaan yang lebih kuat.
Tidak hanya menyampaikan pesan dakwah, Senator H. Jelita Donal, Lc., juga memberikan santunan kepada anak-anak yatim di Padang Sarai, bantuan untuk Majelis Ta'lim Indonesia, serta bantuan bagi Masjid Al Falah, tempat berlangsungnya kegiatan.
Pemberian bantuan ini menjadi wujud kepedulian sosial yang sejalan dengan pesan dakwah tentang pentingnya memperkuat ukhuwah, menumbuhkan solidaritas, dan menghadirkan manfaat nyata bagi umat.
Dakwah, dalam semangat tersebut, bukan hanya mengajak manusia melalui kata-kata, tetapi juga diwujudkan melalui kepedulian dan tindakan yang membantu meringankan beban sesama serta mendukung keberlangsungan kegiatan keagamaan.
Doa Muhasabah Mengakhiri Acara dengan Haru
Rangkaian kegiatan ditutup dengan doa muhasabah yang berlangsung penuh kekhusyukan. Suasana haru menyelimuti jamaah ketika mereka diajak merenungi dosa, kelalaian, keterbatasan usia, serta kesempatan beramal yang tidak selalu datang untuk kedua kalinya.
Air mata yang mengalir menjadi bagian dari suasana perenungan tersebut. Di hadapan Allah SWT, setiap insan diingatkan akan kelemahan dirinya, besarnya nikmat yang telah diterima, serta kebutuhan untuk senantiasa memohon ampunan dan petunjuk-Nya.
Momen itu sekaligus menjadi pengingat bahwa keberhasilan sebuah majelis ilmu tidak semata-mata diukur dari banyaknya jamaah yang hadir atau panjangnya rangkaian acara, melainkan dari sejauh mana nasihat yang disampaikan mampu mengetuk hati dan mendorong perubahan menuju kehidupan yang lebih baik.
Tabligh Akbar MTI Kelurahan Padang Sarai pun meninggalkan pesan yang mendalam: *kuatkan iman dengan ilmu, hidupkan ibadah dengan konsistensi, perbanyak amal berjamaah, periksa setiap informasi dengan tabayyun, serta rawat ukhuwah demi tegaknya persatuan umat.*
Sebab, waktu akan terus berjalan dan usia akan terus berkurang. Selagi kesempatan masih terbuka, setiap Muslim memiliki peluang untuk memperbaiki diri, memperbanyak amal saleh, dan mempersiapkan kepulangan terbaik kepada Allah SWT.
Semoga majelis ilmu semacam ini terus tumbuh dan berkembang, menjadi cahaya bagi keluarga, penguat bagi masyarakat, serta jalan lahirnya umat yang berilmu, beriman, berakhlak mulia, dan istiqamah dalam kebaikan hingga akhir hayat.
*Dari Masjid Al Falah Padang Sarai, sebuah pesan kembali diteguhkan: jangan menunggu kehilangan untuk menyadari nikmat, jangan menunggu tua untuk mulai beribadah, dan jangan menunggu perpecahan untuk belajar menjaga persaudaraan. (*/ak)