Oleh: Irsyad Syafar
(Anggota DPRD Sumbar)
padanginfo.com-Sahabat Nabi yang mulia, Usamah bin Zaid pernah bertanya kepada Rasulullah Saw:
يا رسولَ اللَّهِ، لم أَرَك تَصومُ شَهْرًا منَ الشُّهورِ ما تصومُ من شعبانَ؟ قال: ذلِكَ شَهْرٌ يَغفُلُ النَّاسُ عنهُ بينَ رجبٍ ورمضانَ، وَهوَ شَهْرٌ تُرفَعُ فيهِ الأعمالُ إلى ربِّ العالمينَ، فأحبُّ أن يُرفَعَ عمَلي وأَنا صائمٌ.
Artinya: "Wahai Rasulullah, aku tidak melihatmu berpuasa di satu bulan dari seluruh bulan yang ada, seperti puasamu di bulan Sya'ban?" Rasulullah menjawab: "Itu (Sya'ban) adalah bulan yang manusia banyak lalai, bulan antara bulan Rajab dengan bulan Ramadhan. Pada bulan (Sya'ban) tersebut diangkatkan amalan-amalan manusia kepada Allah Tuhan semesta alam. Maka aku suka saat amalanku diangkat, aku dalam kondisi berpuasa." (HR An Nasai dan Ahmad).
Banyak pelajaran dari hadits ini yang bisa kita pahami dan amalkan dalam kehidupan sehari-hari. Diantaranya:
Pertama, para Sahabat Nabi itu sangat memperhatikan gerak-gerik dan perbuatan Rasulullah. Sehingga kalau nampak sesuatu yang sangat istimewa atau mencolok dari perbuatan Beliau, mereka akan bertanya apa rahasia dibalik itu. Kemudian, tentunya mereka meniru dan mengamalkannya. Jadilah karakter para Sahabat itu (secara umum) mengutamakan apa yang diutamakan oleh Rasul dan meninggalkan apa yang ditinggalkannya. Apa yang prioritas bagi Rasul, bagi mereka juga akan diprioritaskan. Dan apa yang kurang penting baginya, juga akan mereka abaikan.
Kedua, bulan Sya'ban itu ternyata adalah salah satu bulan yang sangat penting dari 12 bulan Hijriyah. Yaitu, pada bulan tersebut amal manusia dilaporkan kepada Allah. Tentunya untuk dinilai dan dievaluasi. Ibarat sebuah lembaga, pada bulan Sya'ban adalah saat laporan tahunan bagi amalan manusia. Sebab ada di dalam hadits yang lain terdapat juga laporan pekanan amalan manusia yaitu di hari Senen dan hari Kamis. Dan ada lagi laporan harian di waktu Shubuh dan waktu Ashar.
Catatan pentingnya adalah, sebaiknya saat amalan kita dilaporkan kepada Allah, kita dalam kondisi berpuasa. Itu akan menambah nilai ibadah yang kita lakukan. Melaksanakan shalat, tilawah, berdzikir, bersedekah dan lain-lain dalam kondisi berpuasa, akan menambah nilai ibadah tersebut di sisi Allah. Rasulullah Saw sangat suka kalau amalannya dilaporkan kepada Allah, sedangkan Beliau dalam kondisi berpuasa saat itu.
Ketiga, bulan Sya'ban ini dinyatakan Rasulullah sebagai bulan yang banyak manusia dalam kondisi lalai. Artinya jauh dari ketaatan dan kebaikan. Ini adalah sebuah peringatan kepada kita semua agar jangan masuk dalam kategori tersebut. Artinya lagi, bagi orang yang beriman bulan Sya'ban ini harus waspada, perbanyak amal shaleh, tingkatkan kualitas ibadah serta kurangi kesalahan dan dosa. Dengan demikian ia akan terhindar dari kelalaian.
Keempat, Rasulullah Saw banyak berpuasa di bulan Sya'ban. Kadang berpuasa separonya, kadang hampir semuanya. Itu artinya bulan Sya'ban adalah waktu bersiap-siap untuk menyambut bulan Ramadhan. Yaitu dengan berlatih berpuasa lebih banyak, agar saat Ramadhan datang, puasa itu sudah menjadi biasa dan ringan. Tidak ada istilah letih, lesu, lelah, lapar apalagi "lupa" karena sudah terbiasa. Begitu juga ibadah-ibadah lainnya yang nanti akan dikerjakan di bulan Ramadhan, harus dilatih dan dibiasakan semenjak bulan Sya'ban.
Adalah sangat keliru kalau di bulan Ramadhan baru belajar puasa, baru belajar ibadah, baru mulai ke masjid, baru berlatih shalat malam (tahajjud), baru latihan sedekah dan lain-lain. Ramadhan itulah "perang" yang sebenarnya. Maka hanya tentara yang konyol saja yang di medan tempur baru latihan. Dan hanya prajurit yang bodoh saja yang masuk medan tempur tanpa persiapan.
Kita sekarang sudah di bulan Sya'ban, semoga kita dibimbing Allah untuk meningkatkan kebaikan kita di bulan ini. Mari kita sambut Ramadhan lebih awal. Hadaanallah waiyyakum jami'an.(**)