Catatan Yurnaldi, sastrawan, wartawan utama
padanginfo.com-Kabar itu datang seperti petir di siang bolong. Muhammad Ibrahim Ilyas telah berpulang.
Sulit mempercayainya. Sebab hanya beberapa jam sebelumnya, ia masih "berbicara" kepada kita melalui dinding Facebook. Bukan dengan keluhan, bukan pula dengan kabar sakit.
Ia berbicara dengan puisi.
"Pulang... ke mana? Pulang."
Tiga baris pendek itu kini berubah menjadi kalimat yang menggema. Setelah kematiannya, kita membacanya bukan lagi sebagai permainan bahasa seorang penyair. Ia terasa seperti sebuah renungan yang mencapai titik akhirnya.
Lalu saya membuka unggahan berikutnya di Fb.
"Langit berbenah dalam darah... hari penghabisan segera tiba..."
Ada "hari penghabisan". Ada "sunyi". Ada "waktu". Ada "merumah". Ada perjalanan menuju sesuatu yang tak lagi dapat dijelaskan oleh logika.
Puisi yang semula mungkin terasa surealis, kini menjadi begitu nyata. Bukan karena Muhammad Ibrahim Ilyas mengetahui kapan ajalnya tiba, melainkan karena penyair memang hidup sangat dekat dengan kesadaran tentang kefanaan.
Kematian membuat kita membaca puisinya dengan cara yang berbeda.
Muhammad Ibrahim Ilyas lahir di Padang pada 28 Januari 1963. Dunia sastra dan teater menjadi rumah panjang yang ia tempati sejak remaja. Pada akhir 1970-an ia mulai bergabung dengan Bumi Teater di bawah asuhan Wisran Hadi, salah satu tonggak teater modern Indonesia.
Perjalanannya kemudian membawanya mendirikan Teater Semut, Sanggar Pasamaian, hingga Teater Imaji. Ia juga menempuh pendidikan teater di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, sebuah fase yang memperkaya pandangan estetikanya.
Tetapi Bram, begitu dia disapa, tidak berhenti di panggung. Ia menulis puisi, naskah drama, esai kebudayaan, sekaligus menjadi redaktur di sejumlah media dan penerbit.
Ia percaya bahwa sastra bukan sekadar karya, melainkan cara memandang kehidupan.
Kumpulan puisinya, seperti Ziarah Kemerdekaan dan Syair Dalam Sekam, memperlihatkan kegelisahan yang tak pernah selesai. Tema tentang waktu, kemerdekaan batin, sunyi, Tuhan, dan kemanusiaan terus berulang. Dalam dunia dramanya, ia menghadirkan manusia yang selalu bergulat dengan nasib dan sejarah.
Penghargaan Sastra dari Badan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 2017 melalui naskah drama Dalam Tubuh Waktu menjadi salah satu pengakuan atas dedikasinya. Namun, bagi mereka yang mengenalnya, penghargaan terbesar Ibrahim sesungguhnya adalah kesetiaannya kepada dunia kesenian.
Ia tidak pernah meninggalkan sastra.
Ada sesuatu yang sering dimiliki para penyair besar. Mereka tidak meramalkan kematian. Mereka hanya lebih akrab dengan kematian dibanding kebanyakan orang.
Mereka memahami bahwa hidup adalah perjalanan yang suatu saat akan selesai. Karena itu kata-kata seperti "senja", "sunyi", "malam", "ziarah", "waktu", dan "pulang" terus muncul dalam karya-karya mereka.
Muhammad Ibrahim Ilyas termasuk di antaranya.
Kini kita mungkin tergoda menyebut status Facebook terakhirnya sebagai firasat. Namun, mungkin yang lebih tepat adalah mengatakan bahwa seluruh hidupnya memang sedang menuju kata itu: pulang.
Pulang bukan sebagai akhir, melainkan sebagai kembali kepada asal.
Sebagai sahabat, saya merasa kehilangan seorang penyair yang memilih berbicara dengan metafora ketika dunia semakin gaduh oleh teriakan.
Sebagai wartawan, saya melihat kepergiannya bukan sekadar berita duka, tetapi kehilangan satu suara kebudayaan yang selama puluhan tahun menjaga nyala sastra di Sumatera Barat, bahkan Indonesia.
Sebagai pembaca, saya baru menyadari bahwa ada puisi yang tidak selesai ketika ditulis.
Puisi itu baru benar-benar selesai ketika penyairnya telah meletakkan pena untuk selama-lamanya.
Selamat jalan, Muhammad Ibrahim Ilyas.
Engkau telah menjawab pertanyaanmu sendiri.
"Pulang... ke mana?"
Kini kami tahu.
Engkau telah pulang.
Dan terima kasih sudah terus memajang foto karya saya di profil fb.
Padang, Kamis (9/7/2026)