padanginfo.com-PADANG PANJANG- Pendiri dan pembimbing UKM Pers Pituluik Dr. Sulaiman Juned, M.Sn mengatakan, Salah seorang anggota Badan Pengawas Organisasi Pers Pituluik, mahasiswa Prodi Fotografi, FSRD, ISI Padangpanjang Rahmadini, menggelar pameran foto sebagai bentuk tugas akhir. Penciptaan karya fotografi yang dikerjakan mengangkat judul “Tradisi Patang Balimau Kampung Mudiak Simpang Pasaman Barat dalam Fotografi Dokumenter” (9/7). Ungkap Sastrawan yang sutradara teater itu.
Sulaiman menambahkan, Karya Rahmadini bertujuan mendokumentasikan salah satu tradisi masyarakat Kampung Mudiak Simpang, Kabupaten Pasaman Barat, yang memiliki keunikan dan nilai budaya tersendiri, serta sebagai arsip visual karya tradisi Patang Balimau yang belum pernah ada sebelumnya. Melalui fotografi dokumenter, Dini merekam tiap proses adat yang dijalani sebagai bentuk pelestarian sekaligus penyampaian informasi kepada masyarakat mengenai kekayaan budaya lokal yang diwariskan secara turun-temurun yang perlu dan penting dijadikan karya. Ujar Dosen Jurusan Seni Teater ISI Padangpanjang.
Rahmadini menambahkan, Tradisi Patang Balimau di Kampung Mudiak Simpang memiliki perbedaan dengan tradisi Balimau yang dikenal di berbagai daerah Minangkabau. Dini menjelaskan, jika tradisi Balimau pada umumnya identik dengan kegiatan mandi bersama di sungai menjelang bulan Ramadan, maka Tradisi Patang Balimau di daerah ini memiliki rangkaian prosesi adat yang lebih khas. Ungkapnya.
Prosesi tersebut diawali dengan arak-arakan yang dipimpin oleh para Niniak Mamak, kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan Balimau secara simbolis sebagai bagian dari tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.
Dalam proses penciptaannya, Dini menggunakan konsep fotografi dokumenter dengan pendekatan metode EDFAT (Entire, Detail, Frame, Angle, dan Time) untuk menghasilkan rangkaian foto yang mampu menggambarkan keseluruhan peristiwa, detail penting, komposisi, sudut pengambilan gambar, serta momen yang tepat. Penyajian karya dilakukan dalam bentuk photo story naratif dengan teknik bertutur berupa sanding, series, sekuen, dan block sehingga mampu menghadirkan alur cerita yang utuh kepada penikmat karya.
Dini menyebutkan, keseluruhan hasil penciptaan terdiri atas 23 karya yang memuat 32 foto dokumenter. Seluruh proses pemotretan dilaksanakan dalam satu hari penuh, tepatnya pada 17 Februari, sebelum memasuki bulan Ramadan. Pemilihan waktu tersebut disesuaikan dengan jadwal pelaksanaan tradisi yang hanya berlangsung sekali dalam setahun.
Dini juga menyampaikan proses penggarapan karya menghadapi tantangan yang cukup besar, terutama dari segi waktu. Karena tradisi hanya dilaksanakan dalam satu hari, setiap momen harus didokumentasikan secara maksimal tanpa kesempatan untuk mengulang pengambilan gambar. Untuk mendukung kelancaran proses dokumentasi, fotografer bekerja bersama tim produksi yang terdiri atas tiga orang dengan memanfaatkan kamera serta drone guna memperoleh variasi sudut pandang dan hasil visual yang lebih komprehensif.
Dini mengaku, keberhasilan penyelesaian karya ini tidak terlepas dari dukungan orang tua yang senantiasa memberikan semangat dan keyakinan kepada pencipta. Motivasi tersebut menjadi kekuatan utama yang mendorongnya untuk terus berjuang hingga mampu menyelesaikan tugas akhir dan menghasilkan karya fotografi dokumenter yang merekam nilai-nilai budaya serta tradisi masyarakat Kampung Mudiak Simpang, Pasaman Barat. (Friti)