Notification

×

Iklan

Iklan

Membawa Buku Keluar dari Gedung Perpustakaan

Jumat, 14 November 2025 | 11/14/2025 WIB Last Updated 2025-11-14T09:35:10Z

Oleh Muhammad Subhan
(Penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis.)


padanginfo.com-TANTANGAN perpustakaan hari ini tidak lagi semata-mata tentang kurangnya pengunjung yang datang ke gedung perpustakaan. Persoalan sebenarnya jauh lebih kompleks: program kreatif apa yang mampu dilakukan perpustakaan agar buku-buku tidak hanya “menunggu” pemustaka, tetapi bergerak keluar, mendatangi ruang-ruang kehidupan masyarakat.

Di tengah arus digitalisasi yang deras, perpustakaan dituntut untuk menembus batas-batas fisik, menghadirkan buku sampai sedekat-dekatnya kepada siapa pun yang membutuhkan.

Di zaman ketika ponsel pintar sudah menjadi perpanjangan tangan manusia, bahan bacaan memang tersedia dengan melimpah. Namun, kelimpahan bukan berarti kualitas. 

Banyak orang enggan datang ke perpustakaan karena merasa sudah memiliki segala sesuatu di genggaman. 

Mereka lupa bahwa apa yang beredar di ponsel tidak semuanya tersaring dengan baik, tidak semuanya memiliki otoritas, dan tidak semuanya mampu menjaga konsentrasi pembacanya. 

Notifikasi pesan, iklan, dan godaan aplikasi lain membuat pengalaman membaca menjadi terpotong-potong, tidak tuntas, dan kehilangan kedalaman. 

Di sinilah perpustakaan harus tetap hadir sebagai penjamin kualitas bacaan—sebentuk kurasi intelektual yang tidak dapat diberikan oleh algoritma gawai.

Dalam konteks pembelajaran di sekolah maupun di masyarakat, buku-buku tetap harus menjadi panduan utama. Bacaan terarah memastikan seseorang tidak tenggelam dalam informasi liar yang berserakan. 

Namun, untuk menghadirkan bacaan yang terarah itu, buku harus hadir di tempat dan waktu yang tepat. Tidak cukup hanya menunggu orang datang; perpustakaan harus menjemput para pembacanya.

Di era klasik, perpustakaan adalah pusat informasi yang didatangi oleh orang-orang yang haus pengetahuan. Namun, di era modern, dengan dinamika kehidupan yang cepat dan mobilitas masyarakat yang tinggi, paradigma itu tidak lagi relevan. Perpustakaan harus bergerak aktif, hadir di titik-titik di mana buku dibutuhkan: sekolah, taman baca, nagari, desa, ruang publik, bahkan pasar dan pusat kegiatan masyarakat.

Salah satu instrumen penting untuk melakukan ekspansi layanan adalah perpustakaan keliling. Mobil-mobil pustaka yang dibeli dengan anggaran pemerintah seharusnya menjadi ujung tombak pendistribusian bacaan. Sayangnya, banyak kendaraan tersebut hanya “bermain aman” di area kota, berputar-putar di wilayah yang sebenarnya sudah cukup dekat dengan fasilitas literasi, khususnya di sekolah. Padahal, sekolah sudah punya perpustakaan. 

Mobil pustakaan keliling masih sedikit menyentuh pelosok-pelosok kampung, tempat anak-anak dan masyarakat benar-benar mengalami kelangkaan bacaan.

Problem klasiknya selalu sama: minimnya anggaran untuk operasional lapangan, terutama BBM. Perpustakaan keliling akhirnya lebih banyak menjadi “pajangan bergerak” ketimbang garda terdepan literasi. Ketika kendaraan tidak diberdayakan, ia hanya menjadi pelengkap program, bukan penggerak program. 

Padahal, menggerakkan satu mobil pustaka ke daerah pelosok sama artinya membuka jendela dunia bagi ratusan anak yang tidak memiliki akses ke buku berkualitas.

Di sinilah perlu dipikirkan solusi yang lebih kreatif dan berdaya guna. Pemerintah daerah dapat menjalin kerja sama dengan komunitas literasi, sekolah, atau perusahaan (melalui CSR) untuk mendukung operasional perpustakaan keliling. 

Kolaborasi lintas-sektor adalah kunci agar mobil pustaka tidak mati suri dan dapat bekerja secara maksimal.

Perpustakaan tidak boleh berdiri sendirian. Ia harus membangun hubungan fungsional dengan kantong-kantong literasi yang telah tumbuh di masyarakat: taman bacaan, perpustakaan keluarga, komunitas literasi, perpustakaan sekolah, hingga sanggar-sanggar kreatif. 

Kolaborasi ini dapat diwujudkan melalui kegiatan lapak baca, bedah buku, kelas menulis, dongeng keliling, hingga berbagai lomba kreatif yang mendekatkan masyarakat kepada buku.

Lapak baca di ruang publik, misalnya, dapat menjadi cara efektif membawa buku ke tengah masyarakat tanpa formalitas berlebihan. Di taman kota, di halaman masjid, atau di balai pertemuan desa, buku dapat dibuka, dibaca, dan dinikmati secara santai. 

Aktivitas seperti ini tidak hanya menghidupkan budaya membaca, tetapi juga menghadirkan ruang sosial yang sehat. Ruang di mana percakapan tumbuh dari pengetahuan, bukan dari gosip atau hoaks.

Di sekolah-sekolah, perpustakaan dapat berkolaborasi menyusun program pengayaan bacaan yang terarah. Buku-buku pilihan yang sudah dikurasi pustakawan harus dibawa ke kelas, didiskusikan bersama guru, dan dikaitkan dengan pembelajaran. Siswa akan melihat bahwa membaca bukan sekadar tugas, melainkan bagian dari pencarian jati diri intelektual mereka.

Salah satu tantangan terbesar dalam gerakan literasi modern adalah ketergantungan masyarakat terhadap gawai. Di satu sisi, teknologi adalah alat bantu yang luar biasa. Namun, di sisi lain, ia dapat menjadi candu yang menghilangkan kemampuan seseorang untuk membaca secara mendalam. 

Menghadapi kondisi itu, perpustakaan harus hadir memberikan alternatif yang lebih sehat: ruang tenang, bacaan berkualitas, dan interaksi intelektual langsung dengan manusia.

Ketika perpustakaan membawa buku keluar dari gedung, ia sebenarnya juga sedang mengajak masyarakat untuk sejenak melepaskan diri dari distraksi digital. Dalam kegiatan lapak baca atau perpustakaan keliling, anak-anak bisa merasakan pengalaman membaca yang utuh, tanpa gangguan notifikasi. Mereka dapat meraba tekstur halaman, mencium aroma buku, dan meresapi cerita dengan kesadaran penuh. 

Pengalaman semacam ini tidak dapat digantikan oleh ponsel.

Perpustakaan masa depan bukanlah gedung megah yang sunyi, melainkan institusi hidup yang bergerak dan menggerakkan masyarakat. Ia harus luwes, adaptif, kreatif, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Ia tidak lagi menunggu; ia mendatangi. Ia tidak diam; ia bergerak. Ia tidak pasif; ia menghidupkan budaya membaca melalui program-program kolaboratif yang menyentuh kebutuhan nyata.

Jika buku dibawa keluar dari gedung perpustakaan, maka perpustakaan akan memiliki wajah baru. Wajah yang ramah, terbuka, dan inklusif. Wajah yang menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan bukan hanya milik mereka yang terpelajar, tetapi milik seluruh warga yang ingin mengembangkan diri.

Ketika buku bisa hadir di tengah masyarakat secara rutin, konsisten, dan kreatif, maka kita dapat berharap lahirnya generasi yang tidak hanya cerdas secara teknologi, tetapi juga matang secara literasi. 

Demikianlah, teknologi memberi akses, tetapi buku memberi kedalaman. []


×
Berita Terbaru Update